Menu

Mode Gelap
Kasus Pembakaran Rumah Sempurna Pasaribu di Tanah Karo: Polda Sumut Tambah Tersangka Baru Polri Gunakan Teknologi Canggih untuk Seleksi Akpol 2024 Terungkap! Identitas dan Peran 2 Eksekutor dalam Pembakaran Rumah Sempurna Pasaribu Rektor UM Tapsel Kukuhkan 146 Guru Profesional, Kepala LLDIKTI Wilayah I: Jangan Berbisnis Apapun Di Sekolah Kejahatan Siber Merebak: Pembelajaran Preventif Masyarakat Kunjungan Mahasiswa MBS UIN Syahada Sidimpuan ke UMKM: Memahami Proses Bisnis dan Pemasaran Digital

Artikel

Pendidikan Tinggi Tidak Menjamin Kecerdasan

badge-check


					Pendidikan Tinggi Tidak Menjamin Kecerdasan Perbesar

Paradigma masyarakat mengenai kita harus melaksanakn pendidikan tinggi agar bisa di anggap cerdas belum dapat diubah.

Pasalnya masyarakat luas masih menganggap ketika seseorang mempunyai jenjang pendidikan tinggi maka ia akan dikatakan cerdas dan penuh ilmu.

Hal tersebut bukan menjadi indikator untuk menilai orang, karena memandang dengan jenjang pendidikan tidak menetukan sukses atau matangnya seseorang.

Tolak ukur masyarakat tidak hanya pendidikannya yang tinggi namun nilai diaatas kertas juga menilai kecerdasan seseorang.

Paradigma terbangun dalam masyarakat mengakibatkan bombroknya pendidikan, sebab seseorang akan berusaha untuk mendapatkan nilai yang bagus demi dipandang baik oleh masyarakat luas.

Cerminan ini merupakan kesalahan besar yang sudah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia sampai kita melupakan darimana seseorang itu mendapatkan nilai tersebut.

Jangan sampai kecerdasan yang dinilai dari atas kertas menghancurkan moral pendidikan kita serta tujuan pembangunan nasional.

Jika kita hanya menilai kecerdasan seseorang dari jenjang pendidikan dan nilai diatas kertas saja, bagaimana  dengan Buya Hamka yang mengenyam pendidikan formal sampai kelas dua sekolah rakyat.

Apakah defenisi cerdas itu dapat kita sematkan kepada Buya HAMKA yang tidak pernah mendapatkan nilai di atas kertas ?

Rocky Gerung seorang pengamat politik pernah berkata “Izajah itu tanda anda pernah sekolah. Bukan tanda pernah anda pernah berpikir”.

Dari quote Rocky gerung diatas kita bisa mengambil makna bahwa untuk belajar dan berpikir itu harus dilakukan hingga akhir hayat.

Jika Ijazah sarjana dapat membuat kita dianggap cerdas, maka banyak manusia yang tak bisa dianggap cerdas dan memiliki ilmu yang mumpuni.

Mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai tujuan pembangunan nasional tidak akan terwujud jika paradigma masyarakat belum dapat diubah hingga saat ini.

Kualitas suatu bangsa dilihat dari kualitas pendidikannya yang mana jika kualitas pendidikan baik, maka rakyat pada bangsa tersebut juga baik.

Jika kecerdasan diatas kertas digunakan untuk mengibuli dan menjadikan seseorang menjadi elit, maka paradigma terbangun disekolah salah.

Institusi pendidikan berfungsi sebagai wadah untuk membebaskan masyarakat dari kebodohan, ketertinggalan dan ketertindasan.

Sudah saatnya kita menyudahi presefsi bahwa seseorang cerdas jika nilai diatas kertasnya bagus.

Nilai yang baik diatas kertas tidak mempunyai banyak guna jika tidak dibarengi dengan konstruktifnya cara berpiki.

Nilai kecerdasan yang sebenarnya dapat kita lihat bagaimana seseorang mendapatkan ilmu tersebut dan mampu mengajarkan ilmunya.

Pola pikir yang saat ini terpatri dalam diri masyarakat Indonesia sudah seharusnya dirubah dengan cara memperbaiki sistem dan konsep pendidikan yang ada.

Print Friendly, PDF & Email

Baca Lainnya

Food Estate dan Kesejahteraan Masyarakat

30 Mei 2024 - 13:51 WIB

Husni Mubarak Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Ekonomi USU/ Penulis/ Ist

Kunjungan Kapolres Madina ke Pantai Batu Ruso Tabuyung: Dorong Peningkatan Pelayanan Wisata

14 April 2024 - 21:00 WIB

Empowerment IMMawati: Meningkatkan Kapasitas dan Pengaruh Untuk Kesetaraan Gender

1 April 2024 - 22:01 WIB

Karakter Menjadi Puncak Akhir Pendidikan

3 Februari 2024 - 20:44 WIB

Kontroversi Boikot Produk Menjadi Konflik Nasional

21 November 2023 - 13:43 WIB

Trending di Artikel