Bagaimana Sholat ketika di Luar Angkasa

Warta772 Dilihat

Fatwa Shalat di Luar Angkasa

Awalnya hal ini menjadi problem bagi Sheikh Muzaphar dan menjadi isu yang cukup ramai dibincangkan oleh kaum muslim di Malaysia. Hingga akhirnya, pada 2006, Badan Antariksa Malaysia (ANGKASA) menggelar seminar bertajuk “Seminar on Islam and Living in Space” bersama 150 ilmuwan dan ulama untuk membahas fatwa mengenai bagaimana muslim melakukan kewajiban-kewajiban keagamaannya di ruang angkasa.

Konferensi itu menghasilkan sebuah buku panduan melakukan ibadah-ibadah di ruang angkasa yang berjudul A Guideline of Performing Ibadah (worship) at the International Space Station (ISS) yang dikeluarkan oleh Departemen Agama Malaysia, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). Buku ringkas yang terdiri dari 18 halaman ini memuat berbagai panduan beribadah di ruang angkasa mulai dari bersuci, shalat, puasa, hingga pemakaman.

Persoalan pertama yang dibahas adalah arah kiblat. Buku panduan tersebut menyebutkan ada empat pilihan bagi astronot untuk menentukan arah kiblat. Pertama, menghadap Kabah di Bumi bila memungkinkan untuk ditemukan arahnya.

Kedua, menghadap proyeksi Kabah di langit. Ketiga, menghadap Bumi tanpa mempertimbangkan di mana arah Mekah. Dan terakhir adalah menghadap ke mana saja.

Pemilihan ini juga didasarkan pada unsur keringanan yang sudah tertulis dalam panduan Islam mengenai tata cara salat ketika bepergian.

Cukup banyak dalil yang sering dirujuk mengenai bagaimana Islam memberikan kemudahan dalam beribadah. Ada dalil dalam Surat al-Baqarah ayat 185: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Kemudahan dari Allah: ringkasan tafsir Ibnu Katsir, Volume 1, hal 291)

Salah satu hadist terkenal yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tentang kemudahan yang diberikan Islam kepada umatnya dalam menunaikan kewajiban: “Agama itu mudah, dan tak seorangpun yang menjalankan agama berlebihan hingga hal tersebut memberatkannya, maka berlaku benarlah serta ambillah jalan tengah dan berserilah air mukamu serta mohon pertolongan pada pagi dan petang serta sebagian waktu malam.” (Kitab Hadits Pegangan: 642 Hadits Sahih Pilihan Beserta Tafsir untuk Pedoman Hidup Muslim Sehari-hari, hal. 18)

Lalu tentang penentuan waktu salat, astronot bisa menyesuaikannya dengan waktu salat di tempat peluncuran misi antariksa. Misalnya, Sheikh Muzaphar meluncur ke antariksa dari Baikonur, Kazakhstan, maka ia bisa menyesuaikan waktu salat di Baikonur. Pun sebagaimana seorang musafir, astronot tidak perlu melakukan salat lima waktu melainkan melakukan jamak (menggabungkan/mengumpukan) atau qasar (menyingkat) shalat.

Bagaimana dengan pergerakan salat? Kondisi zero gravity, seperti yang dikatakan Pangeran Sultan Salman, akan menyulitkan astronot untuk melakukan ruku dan sujud.

Oleh karenanya, dalam panduan JAKIM disebutkan beberapa pilihan bagi astronot untuk melakukan gerakan salat. Di antaranya: bila postur berdiri tegak sulit dilakukan maka astronot bisa berdiri dengan postur yang memungkinkan. Kedua, salat dengan cara duduk. Bila waktunya ruku atau sujud bisa dilakukan dengan membungkukkan badan saja.

Ketiga, postur berbaring menghadap kiblat. Atau pilihan lainnya bila kesulitan menemukan arah kiblat adalah dengan berbaring tegak.

Dua pilihan terakhir bila memang benar-benar sulit untuk bergerak adalah dengan menggunakan kedipan mata sebagai indikator pergantian gerakan salat atau dengan cara membayangkan setiap gerakan salat.

Sejauh ini belum diadakan perbincangan lebih lanjut di kalangan ulama dunia mengenai beribadah di ruang angkasa. Namun, hasil dari konsorsium Malaysia tersebut diharapkan bisa menjadi panduan bagi semua astronot muslim di seluruh dunia.

  • Sumber : Tirto.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *