Menu

Mode Gelap
Kasus Pembakaran Rumah Sempurna Pasaribu di Tanah Karo: Polda Sumut Tambah Tersangka Baru Polri Gunakan Teknologi Canggih untuk Seleksi Akpol 2024 Terungkap! Identitas dan Peran 2 Eksekutor dalam Pembakaran Rumah Sempurna Pasaribu Rektor UM Tapsel Kukuhkan 146 Guru Profesional, Kepala LLDIKTI Wilayah I: Jangan Berbisnis Apapun Di Sekolah Kejahatan Siber Merebak: Pembelajaran Preventif Masyarakat Kunjungan Mahasiswa MBS UIN Syahada Sidimpuan ke UMKM: Memahami Proses Bisnis dan Pemasaran Digital

Cerita Pendek

Hafalan Adzan Syahbi

badge-check


					Vector illustration of  Cartoon Muslim boy call Adzan by : istockphoto.com Perbesar

Vector illustration of Cartoon Muslim boy call Adzan by : istockphoto.com

Syahbi namanya seorang anak yang punya keterbelakangan mental. Ia seorang anak yang tidak bisa bicara fasih seperti teman-temannya yang lain.

Syahbi duduk dibangku sekolah dasar karena di kampungnya tidak ada sekolah luar biasa. Maka, Syahbi pun bersekolah yang justru tidak layak untuknya. Sepantasnya sekolah di sekolah luar biasa.

Namun, Syahbi adalah anak yang baik. Ia selalu membantu orang tuanya. Pak Sukur adalah ayah Syahbi, seorang teknisi yang hanya berbekal pengalaman bukan sekolah teknik. Namun karena terbiasa bekerja mesin, Pak Sukur pun bisa mengandalkan pengalaman nya tersebut.

Buk Wati adalah ibu Syahbi, bekerja sebagai penjual donat. Setiap hari menjual donat-donat yang dibantu oleh Syahbi dan kakaknya Ani.

Kakak nya seorang pelajar ditingkat sekolah menengah atas.

Terpaut dengan Masjid

Syahbi sangat terpaut dengan masjid. Ia selalu kesana untuk bisa shalat walau punya keterbelakangan mental, tidak seperti anak-anak sebayanya yang sudah mahir dalam mengaji, shalat beserta bacaan-bacaan nya bahkan tak sedikit dari temannya bisa adzan seperti Ilham dan Anshor.

Syahbi ke mesjid hanya berada diruang kecil yang sempit, disana mempunyai ambal yang empuk dan mempunyai kipas angin yang begitu sejuk dan mengeluarkan angin yang begitu deras. Ia selalu disana.

Terkadang, tempat itu digunakan Ustadz Farhan untuk mengajar mengaji dan bercerita tentang kisah para nabi dan sahabat-sahabat Nabi.

Ia sangat suka mendengarkan kisah-kisah tersebut. Walau dengan berbicara terbata-bata, Syahbi selalu kembali bercerita pada ayah dan ibunya tentang apa yang diceritakan oleh Ustadz Farhan di masjid.

Pandemi Menjadi Penghalang Ke Masjid

Namun kondisi saat ini tidak memungkinkan bagi Syahbi. Dimasa pendemi ini tidak semua orang mau ke masjid.

Apalagi didaerah Syahbi adalah daerah yang terpapar virus corona yang cukup banyak. Sang ibu juga melarang Syahbi untuk ke masjid takut akan terjangkit nya virus tersebut.

“Bi…syahbi untuk saat ini jangan dulu ke masjid ya. Ada larangan nya tidak boleh ramai-ramai kesana, untuk shalat syahbi dirumah saja” kata sang bunda.

“siapa yang larang? abi mau ke masjid mak” jawab syahbi.

“Pak lurah yang larang nak” sambut ayahnya.

“abi mau ke masjid yah..pokoknya abi mau ke masjid” rentak abi yang hatinya sangat terpaut dengan masjid.

“Nanti kalau corona sudah hilang baru abi kemasjid” sambut sang kakak.

“Apaan? dulu tak pernah larang-larang abi ke masjid. Pokoknya abi mau ke masjid. Udah sekolah tak boleh, ke masjid juga tak boleh” tandas Syahbi berontak.

“Syahbi dirumah aja shalatnya,dikamar kakak” balas sang kakak.

“Disini tak bisa dengar tausiyah Ustadz Farhan, kamar kakak juga tak ada Ac-nya” celoteh Syahbi pada sang kakak.

“Yaudah terserah sahbi saja, yang pastinya kakak mengingatkan syahbi jangan pergi untuk saat ini” ungkap sang kakak kepada sang adik.

“tapi bapak bapak disana pergi kemasjid kak” jawab Syahbi kembali.

“Terserah Syahbi sajalah” balas sang kakak.

Rindu Suasana Masjid

Sahbi sangat merindukan masjid. Hari demi hari ia harus lalui akan kerinduan nya itu. Syahbi hanya memandangi dari kisi kisi jendela depan rumahnya melihat wara-wiri masyarakat yang hendak kepasar dan ada yang mau kemasjid tapi menggunakan penutup kain di mukanya.

“Kak, kenapa semua orang saat ini memakai penutup mulut” tandas sahbi.

Karena sahbi tidaklah seorang anak yang normal. Daya ingatnya terganggu, untuk bicara saja Syahbi tertatih lirih.

“ooh itu namanya masker. Dimasa pandemi ini masker adalah salah satu hal yang wajib digunakan kalau kita kemana-mana” jawab sang kakak.

“Berarti Syahbi bisa ke masjid dong dengan menggunakan masker? kakak ada masker? ya… Syahbi boleh minjam?”kata syahbi

“Hmm..ada, coba ambil disana ada masker kakak” sang kakak hanya mengelus dada melihat kecintaan sang adik kepada masjid.

Kakaknya hanya khawatir, mereka orang susah. Jangan lagi dipersusah, jika ada salah satu anggota keluarga yang terkena virus dan adik nya bukanlah anak yang normal seperti anak-anak seusianya pada umumnya. Syahbi mencuri pergi tanpa sepengetahuan sang kakak, dan ayah serta ibunya sibuk bekerja. Iadengan baju koko-nya serta mengenakan masker yang di beri oleh sang kakak.

Syahbi tiba di Masjid

“Alhamdulillah aku sampai ke masjid ini, hay masjid Syahbi rindu pada mu. Apakah kamu merindukan Syahbi juga? katanya ada penyakit di dunia ini, jadi kita jarang ketemu” Syahbi pun duduk diteras masjid.

Setelah itu Syahbi langsung masuk dan duduk ditempat kesukaan nya yaitu ambal lembut juga berdekatan dengan Ac dan kipas angin yang begitu besar.

“Hmm… Alhamdulillah, abi rindu sejuk masjid. Tak ada sejuk begini di rumah abi, yang ada perkakas ayah dan tepung ibu yang berserak-serakan, juga omelan sang kakak yang tak memberi abi kesini” tandas abi sambil menikmati kesejukan didalam masjid tersebut.

Ustadz Farhan Bertemu Syahbi

Tiba tiba ustad farhan datang untuk adzan zuhur karena waktunya untuk shalat zuhur.

“Assalamualaikum, hey ada syahbi. Syahbi apa ayah dan ibu tahu syahbi ada disini?” tanya Ustadz Farhan pada Syahbi.

“Walaikumsalam Ustadz, abi kan pakek masker jadi penyakit tak ada untuk abi” jawab Syahbi.

“Bukan begitu nak, bukan hanya karena masker kita bisa terhindar dari wabah tapi masih banyak hal-hal yang mesti diperhatikan. Nanti ayah dan ibu marah sama Syahbi, tanpa sepengetahuan mereka Syahbi ke masjid” kata ustadz farhan.

“Syahbi rindu sama masjid pak, Syahbi rindu” air mata Syahbi menetes disudut pipi nya.

Keterbelakangan Mental Syahbi

“Iya bapak tau nak Syahbi rindu main-main ke masjid mendengar tausyiah ustadz kan dan rindu teman-teman yang lain juga. Tapi keadaan yang tidak memungkinkan bi” balas sang ustadz kepada sahbi.

“Iya pak ustadz. Tapi, hijas teman abi boleh kesini untuk adzan. Apa karena bisa adzan boleh ke masjid? Apa orang seperti ustadz dan hijas karena bisa adzan tidak terkena penyakit?” tanya Syahbi.

Karena Ustadz Farhan juga faham tentang kondisi syahbi yang punya keterbelakangan mental.

“Bukan nak, bukan karena bisa adzan tidak terkena virus. Bukan juga yang hanya pandai adzan bisa ke masjid. Semua bisa kesini, tapi mengurangi orang berkumpul dan kerumunan. Nah, kalau hijas disini karena hijas tinggal dimasjid ini bi, hijas tak punya ayah dan ibu serta keluarga lagi hijas tinggal di MES masjid. Ia betugas sebagai seorang muadzin terkadang menggantikan tugas bapak untuk adzan” jelas Ustadz Farhan kepada Syahbi.

Syahbi Meninggalkan Masjid

Syahbi pun berlari meninggalkan masjid,ia menangis menuju rumah.

“Bi, dengarkan bapak dulu nak, kami sayang pada mu bi. Doakan virus ini tidak ada lagi” kata Ustadz Farhan mencoba menahan Syahbi yang sudah begitu cepat berlari meninggalkannya di masjid.

Setiba nya dirumah Syahbi menangis dan mengunci dirinya dikamar.

“Ni, coba kau panggil Syahbi ajak makan dari tadi Syahbi tidak makan” kata Buk Wati menyuruh kakak nya ani.

“Bi..makan disuruh Mak” kak Ani nya memanggil.

“tidak,ku tidak mau makan dan keluar dari kamar semuanya jahat, karena sahbi tidak anak yang normal tak bisa mengingat dengan baik. Semuanya benci Syahbi, Syahbi akan belajar adzan, kakak Ani janji ajari Syahbi adzan biar abi bisa selalu bisa ke masjid seperti hijas” kata sahbi menangis lirih.

Karena Syahbi sadar ia adalah anak yang punya kekurangan, yang lemah dan daya ingatnya tak bisa untuk menghafalkan sesuatu.

Namun kecintaannya pada masjid dengan bisa adzan, ia bermaksud akan senantiasa bisa ke masjid seperti mana biasanya.

Ayah pun Mengajari Syahbi Adzan

Pak sukur pun pulang dari kerjaan elektronik nya dan mencoba memahami apa yang terjadi pada suasana rumah.

“Nak, keluarlah dari kamar kakak mu,dan makanlah nanti kamu sakit. Ayah berjanji akan mengajari Syahbi adzan sampai Syahbi bisa,dan nanti bisa gantikan Ustadz Farhan dan teman mu siapa namanya ya, hijas” sambut sang ayah membujuk Syahbi agar keluar dari kamar.

“Betulkah ayah, betulkah, betulkah ayah akan mengajari Syahbi. Baiklah Syahbi akan keluar dan akan makan” Syahbi pun keluar dari kamar untuk makan.

Ayah nya berjanji selepas makan ia akan diajari lafaz adzan sebagaimana janji ayah nya.

“Iya bi…ayah akan mengajari mu adzan,tapi janji setelah sahbi makan ya nak” ucap sang ayah.

“Baik ayah,sahbi akan keluar kamar dan akan makan”jawab sahbi.

Sahbi pun bergegas keluar kamar untuk makan dan bersiap siap untuk di ajari adzan oleh sang ayah.

“Udah yah..udah..sahbi udah siap makan nya,ayah janji kan mengajari sahbi untuk belajar adzan”sahbi kembali mengutarakan apa yang tadi ayah nya sudah janji kan

Janji Ayah Mengajari Syahbi

“iya nak..ayah akan mengajari mu adzan”dalam hati sang ayah keterbelakangan mental mu itu tidak menyurutkan niat mu untuk belajar adzan.

“Nah dengarkan ayah ya nak..Allah hu akbar Allah hu akbar,Allah hu akbar Allah hu akbar,Asshaadu ala ila hailaAllah”sang ayah pun mulai mengajari sahbi untuk belajar adzan.

“Allah hu akbar Allah hu Akbar,Allah hu akbar,Asshadu ala ila hailaAllah”sahbi pun mulai menirukan lafadz-lafadz adzan sebagaimana yang telah diajari ayah nya.

Walau begitu susah bagi sahbi untuk menghafalkan nya kadang terbalik balik.

Maklumlah daya ingat Syahbi tak setajam anak-anak yang normal.

Syahbi punya kekurangan yang jauh dibandingkan anak anak seusianya.

Namun kecintaan nya pada lafal adzan itulah yang membuat ia tekun belajar sampai niat dalam hatinya bisa seperti hijas teman nya yang merupakan muadzin cilik dimasjid.

Keteguhan Syahbi dalam Melafadzkan Adzan

Setelah sahbi belajar adzan dengan ayah nya,ia senantiasa mengulang ulang lafadz adzan itu tiap menit dan tiap saat sampai ia tidak tahu dengan kalimat lain selain lafal adzan lah yang selalu ia kumandangkan,di rumah nya.

“Bi,sahbi coba dulu stel kan speaker itu kakak pengen mendengar kan musik”ucap sang kakak sambil menyuruh sahbi.

“oh tidak kak, kakak tak boleh stel musik, kakak harus mendengar lafal adzan yang Syahbi lantunkan, dengar ya kak dengar” ucap Syahbi menyahut pembicaran kakaknya.

Kakak nya hanya terdiam dan menghela nafas saja.

Dalam hati sang kakak luar biasa kecintaan adiknya dengan lafal adzan tersebut, sampai sebelum tidur pun sahbi tetap mengundangkan adzan.

Penasaran Ibu kepada Syahbi yang Suka dengan Adzan

Sang bunda bertanya, “nak,apa yang membuat mu menyukai adzan hingga tiap saat kau mengulang lafal adzan yang di ajari ayah mu pada tadi siang?” tanya sang ibu yang sangat penasaran dengan anak nya tersebut.

“sahbi ingin mengumandangkan adzan ma,seperti hijas,ya seperti hijas selepas adzan sahbi akan terbang kelangit”jawab Syahbi menjawab pertanyaan sang bunda.

Sang bunda hanya menarik nafas saja dengan jawaban sang anak. Ia tak heran karena sang anak lahir tidak seperti anak-anak sebayanya.

“baiklah nak,tapi istirahatlah ini sudah malam saat nya kamu tidur besok baru kamu lanjutkan hafalan adzan mu”ucap sang ibu dua anak itu agar sang anak dapat tertidur.

“baik ma,jika sahbi sudah hafal sahbi ingin adzan diMasjid “ujar sahbi.

“InsyaALLAH nak,pasti kamu bisa hafal dan tidurlah” balas sang bunda.

Setoran Hafalan Adzan Syahbi

Pada siang hari nya sang ayah duduk berdampingan dengan Syahbi.

“bi,bagaimana nak apakah hafalan adzan mu sudah bisa terhafalkan semua nya”tanya sang ayah yang penasaran dengan latihan adzan dari sang ayah.

“hmmm,,,baik yah,,sahbi akan adzan,ayah coba dengarkan ya yah”ucap sahbi pada sang ayah.

“baik nak,ayah akan menjadi pendengar yang baik dan menyimak lafal adzan mu”

“baik ayah,,,Bissmillahirohmanirohim….ALLAH HU AKBAR,ALLAH HU AKBAR,ALLAH HU AKBAR ALLAH HU AKBAR,ASSHADU ALA ILA HAILAALLAH,ASHADU ALA ILA HAILAALLAH,ASHADUANAMUHAMMADAROSULLULAH,ASHADU ANA MUHAMMAD DAROSULLULLAH,HAIYA ALLA SHOLLA,HAIYA ALASHOLA,HAIYALLAFALLAH,HAIYALAFALLAH,ALLAH HU AKBAR ALLAH HU AKBAR LAILAHAILLALLAH”Sahbi pun selesai adzan.

Kisah Haru Setelah Syahbi Melantunkan Adzan

“masyallah nak,merdu suara mu nak,semoga Allah menjadikan mu anak yang soleh yang dapat selalu mendoakan ayah jika ayah tiada,doakan ayah ya nak selepas shalat mu” sang ayah menangis meneteskan air mata.

Karena sahbi bisa melantunkan adzan dengan baik dengan suara yang merdu.

Sang ayah tidak menyangka sang anak yang diklaim memiliki keterbelakangan mental mempunyai daya ingat yang luar biasa dalam menyebut dan memaha Besarkan Allah dan mempunyai suara yang merdu pula.

“Ayah kenapa menangis,ayah tak boleh menangis hanya karena sahbi adzan”Ungkap sahbi kepada sang ayah.

“Ayah bahagia nak melihat mu yang bisa adzan sebagus ini .ini air mata bahagia nak,hafalan mu bagus dan suara mu merdu itu yang buat ayah menangis nak”kata sang ayah sambil memeluk sahbi.

“Suatu hari sahbi boleh kan adzan di masjid,bersama hijas,sahbi pengen sekali bisa adzan di masjid. Memanggil para orang orang agar datang ke masjid seperti yang dilakukan hijas setiap harinya. Ayah bisa kan berbicara dengan ustadz farhan agar diberi kan kesempatan itu. Syahbi tidak ingin mainan ayah hanya itulah permintaan sahbi pada ayah” tegas sahbi mengungkapkan keinginannya pada sang ayah.

Dalam hati sang ayah apa mungkin seorang anak yang mempunyai keterbelakangan mental seperti sahbi diberikan kesempatan untuk adzan seperti anak anak normal yang lain seperti hijas sang ayah hanya mengiyakan saja”Iya nak,suatu hari nanti ayah akan berbicara pada ustadz farhan meminta nya agar sahbi diberikan kesempatan untuk bisa adzan” Ungkap sang Ayah.

Kegembiraan Syahbi

“terima kasih ayah terima kasih,ayah adalah ayah terbaik didunia ini ayah adalah ayah terhebat terima kasih ayah” sahbi memeluk sang ayah dan mencium nya,sang bunda dan kakak nya hanya menyeka air mata saja.

Karena selain sahbi mempunyai keterbelakangan mental sahbi ternyata juga mengidap kanker otak yang sulit untuk di angkat dan vonis dokter usia sahbi tidak akan lama keluarga sederhana yang hanya berdinding tepas itu hanya menyeka air mata melihat kebahagian sahbi yang sederhana hanya bisa diberikan kesempatan adzn di sebuah masjid yang berdekatan dimana mereka tinggal di mana ustadz farhan dan seorang anak yatim bernama hijas sebagai penjaga masjid tersebut.

Sang Ayah Meminta Izin Kepada Ustadz Farhan

Pada suatu sang ayah bertemu dengan ustadz farhan.

“Assalamu’alaikum ustadz,bolehkah aku meminta waktu sebentar saja untuk bisa berbicara dengan ustadz?”tanya pak sukur ayah dari sahbi.
“walaikumsalam pak sukur dengan senang hati,apa gerangan yang ingin kita bicarakan hmm,,disana saja kita duduk pak seperti nya ini hal yang serius”sambut ustadz farhan.

“mengenai sahbi ustad” balas pak sukur

“ada apa dengan sahbi pak,sahbi sekarang memang agak jarang terlihat ke masjid apa karena wabah ini ya pak sahbi dilarang untuk ke masjid ‘Balas ustadz farhan.

“bukan begitu ustadz,ustadz kan tahu sendiri sahbi anak ku mempunyai keterbelakangan mental dan mengidap kanker otak stadium empat,mungkin inilah permintaan terakhir nya ustadz”kata pak sukur dengan wajah memelas sedih.ustadz farhan pun turut dalam kesedihan tersebut.

“apa ya pak kira kira permintaan dari sahbi,coba lah bapak ceritakan kepada ku,apa yang di inginkan sahbi’ balas ustadz farhan dengan nada rendah dan turut dalam kesedihan yang dirasakan oleh pak sukur.

“sahbi ingin bisa adzan di masjid ia ingin diberikan kesempatan adzan seperti ustadz sebagai guru ngaji nya dan hijas teman nya,bisakah ustadz memberikan kesempatan itu kepada anak ku sahbi “ kata pak sukur agar Syahbi diberikan kesempatan tersebut.

Rasa Kagum Ustadz Farhan

“Masyallah permintaan yang luar biasa,insyallah ashar nanti sahbi akan adzan di masjid pak,Siapa saja boleh meMahaBesarkan Allah pak,dalam bentuk adzan,rasa bersalah saya jika permintaan ini tidak saya indahkan,sahbi anak kuat pak ia akan bertahan dari penyakitnya dan Allah akan angkat penyakitnya,tetaplah berikhtiar dan berdoa pak sukur untuk sahbi ‘seru ustadz farhan mencoba menenangkan pak sukur.

“iya pak,insyallah saya selalu berdoa untuk sahbi”pak sukur sedih dan meneteskan air mata.

“iya ayah,sahbi bahagia sekali ustadz farhan memberikan kesempatan itu,Ayah,mak dan kakak juga harus ikut ya ke masjid untuk mendengarkan sahbi adzan untuk pertama kali nya.
“dan bukan untuk terakhir kali nya nak,kamu akan tetap hidup bersama ayah “balas sang ayah dengan nada sedih dan mata berkaca kaca.

“iya yah,,,ayo yah buruan mak,kak,udah waktunya ayo kita berangkat”sahbi dengan nada gembira bisa berangkat ke masjid lagi.sahbi mengenakan baju koko kurta putih,peci dan celana nya juga berwarma putih wajah nya bersinar sinar tampak bahagia dan ingin segera bisa ke masjid untuk mengumandangkan adzan untuk shalat ashar.

Melantunkan Adzan di Masjid

“Tes…tes..1,2,3 dicoba “ Ustadz farhan tampak mengetest mikrofon masjid untuk memastikan bahwa micropon nya dalam keadaan bagus.

“Assalamuaalaikum ustadz farhan,apa kabar ustadz” sahbi mengulurkan tangan dan menyalam ustadz farhan serta mencium tangan sang ustadz.

“wa’alaikumsalam nak,Alhamdulillah baik nak,kamu baik kan nak,anak ustadz tampak ceria dan bahagia hari ini”jawab sang ustadz sambil mengelus ngelus kepala sahbi.

“hijas mana ustadz “kata sahbi menanyakan pada sang ustadz.

“hijas sedang memukul beduk nak,sudah siapkan anak ustadz untuk adzan waktu ashar sudah hampir tiba nak” kata ustadz farhan.

“eeh,,,ada sahbi,sahbi siapkan untuk adzan hari ini” Sambut hijas menghampiri sahbi.

“siap kawan,,dengarkan sahbi adzan ya jaz”ucap sahbi dengan percaya diri.

“Baik kawan,,biar ada teman hijas adzan “ya kan ustadz farhan.

“iya anak anak ku,insyallah’jawab sang ustadz tersenyum melihat dua anak yang selalu ia ajari mengaji.

“ayo,,sahbi udah tiba waktu ashar”kata ustadz farhan.

“baik ustadz” sahbi pun menghampiri microfon masjid tanda ia akan memulai adzan shalat ashar.
“Bissmillahirohmanirohim,ALLAH HU AKBAR ALLAH HU AKBAR,ALLAH HU AKBAR ALLAH HU AKBAR,ASSHADU ALA ILA HAILALLAH,ASSHADUALA ILA HAILALLAH,ASSHADU ANA MUHAMMADAROSULLULLAH,ASSHADU ANA MUHAMMADAROSULLULLAH”

Para jamaah pun mulai banyak berdatangan untuk menunaikan shalat ashar, semua masyararakat yang berdekatan dengan masjid AL FALAH pun merasa terkagum itu suara anak siapa dan membuat benak mereka bertanya tanya dan akhirnya tak sebanyak itu jamaah shalat ashar biasanya karena mereka penasaran itu suara anak siapa?

HAIYAALALSHOLAH,HAIYAALALSHOLAH,HAIYAALAL FALAH,,,,,,,,

Detik-detik Sebelum Syahbi Meninggalkan Semuanya

Pada saat memasuki lafal haiyaalal falah kedua sahbi pun terdiam semua jamaah pun menyaksikan berdiri nya sahbi tampak goyah dan tiba tiba sahbi jatuh dan tergelatak,kemudian dengan sigap hijas langsung menghampiri micropon nya “HAIYALAL FALAH,ALLAH HU AKBAR ALLAH HU AKBAR LAILAHAILALLAH” hijas pun menyudahi adzan dari sahbi.
Sahbi tergeletak dan tak sadarkan diri hingga sang ayah pun lari untuk menghampiri sahbi,

“biii,,anak ayah,jangan tinggalkan ayah nak,ini ayah,sahbi kan janji jika ayah tiada sahbi lah yang akan shalat kan ayah,jika ayah tiada sahbi lah yang akan doakan ayah,jika sahbi tiada siapa lagi anak soleh ayah nak,,,nak,,bangunlah nak,jangan tinggalkan ayah nak,,bangunlah nak,,kamu harus hidup ayah akan melakukan apa saja untuk mu nak “Sang ayah meratapi sang anak,yang tergeletak pingsan,dan tiba tiba pada lisan sahbi terucap “ASHADU ALA ILAHAILAALLAH WASHADU ANA MUHAMMADAROSULLULLAH” Sahbi pun menghembuskan nafas terakhir nya dipangkuan sang ayah.

“Yang tabah dan ikhlas ya pak sukur,saya turut berduka cita dan berusaha memenuhi permintaan sahbi untuk bisa adzan,saya turut merasakan kesedihan ini Pak,sahbi adalah anak baik saya akan selalu merindukan mu nak” ustadz farhan mencium jenasah dari sahbi.para jamaah masjid pun menaruh jenajah sahbi sebentar sebelum dilaksanakan fardhu kifayah nya karena mereka akan melaksnakan fardhu ashar,iqomah dilanjutkan oleh hijas yang juga turut dalam kesedihan atas kepergian teman nya yaitu sahbi.

Sang ibu dan kakak tak kuat menahan kesedihan atas kepergian sahbi untuk selama-selamanya.

~TAMAT~

Oleh: Khairil Ahyar Harahap

Print Friendly, PDF & Email

Baca Lainnya

Kunjungan Kapolres Madina ke Pantai Batu Ruso Tabuyung: Dorong Peningkatan Pelayanan Wisata

14 April 2024 - 21:00 WIB

Bhabinkamtibmas Polsek Sipirok Gandeng Tokoh Agama: Bersama Menuju Pemilu Damai

2 November 2023 - 02:34 WIB

Bayaran Kesalahan|Cerpen Ramli Lahaping

1 Januari 2022 - 23:50 WIB

Bayaran

Cerpen || Kehilangan Sebab Saling Bersama

30 Juli 2021 - 15:30 WIB

kehilangan

Cerita Dibalik Cita-cita, Sepiring Nasi Goreng dan Teh Hangat

5 Juli 2021 - 22:44 WIB

Nasi Goreng
Trending di Cerita Pendek