Kemudian sebagai mahasiswa kritis karena sering mengikuti demonstrasi dan mengkritisi metode pembelajaran dosen.
Mahasiswa aktifis rela meninggalkan kuliah dan tugas-tugas perkuliahan hanya karena rapat organisasi dan demonstrasi, biasanya mahasiswa aktifis dicap sebagai mahasiswa kura-kura (Kuliah Rapat-Kuliah rapat).
Jadi Harus Akademis atau Aktifis sih?
Jika ditelaah lebih jauh lagi, baik mahasiswa akademis ataupun mahasiswa akhtifis memiliki peran yang sama dan keduanya harus saling mendukung dan melengkapi.
Maka mahasiswa yang baik adalah yang akademis dan juga aktifis, jadi keduanya harus berjalan beriringan.
Seorang mahasiswa perlu menjadi akademis untuk memahami banyak teori yang sesuai dengan jurusan masing-masing serta bisa lulus dengan tepat waktu.
Namun menjadi mahasiswa aktifis juga perlu untuk menambah relasi, pengalaman, ilmu diluar materi perkuliahan serta memahami realitas sosial yang ada.
Persoalan pada keduanya terletak pada manajemen waktu yang tidak tepat antara mahasiswa akademis serta mahasiswa aktifis.
Selain itu tingkat kesadaran juga mempengaruhi mahasiswa untuk memilih ingin menjadi akademis atau aktifis.
Kesadaran merupakan hal fundamental yang dimiliki oleh setiap manusia, namun kesadaran memilki tingkatan dan pembagian.
Sebagiaman Paulo Freire (seorang tokoh pendidakan dari brazil) membagi kesadaran menjadi tiga.
Pertama kesadaran magis: Pada tahap ini seseorang tidak mampu memahami realitas sosial maupun dirinya sendiri.
Seseorang yang memiliki kesadara sering kali menjadi orang yang pasrah dan tidak mau merubah kehidupannya karena merasa seluruh yang terjadi baik pada realitas sosial maupun pada dirinya sudah digariskan oleh takdir.
Kedua. Kesadaran naif: Pada tahap ini seseorang sudah mulai sadar bahwa dirinya telah ditindas.






