Manusia Tidak Sempurna, Apakah Masih Diterima?

Warta531 Dilihat

Komunikasi bentuk pengembangan diri

Hal yang sebenarnya sudah kita ketahui bersama, lawan bicara kita memiliki perasaan, jadi ia juga bisa merasakan apa yang kita rasakan lewat pembawaan kita saat berinteraksi.

Sebisa mungkin tidak ada sesuatu yang kita tutupi ketika interaksi yang berlangsung.

Namun, sayangnya aku dengan pembawaan yang tidak enakan, tidak bisa terbuka jika belum benar-benar ada kedekatan ini membuat mereka salah tangkap.

Aku tidak menyalahkan pandangan mereka, karena aku sadar ini salahku. Sesuatu yang benar-benar perlu aku beri perhatian penuh yaitu bagian ini.

Aku akui benar apa perkataan seniorku ba’da magrib tadi sewaktu nongkrong makan di Burjo.                                                      

Bukan maksud untuk pilih-pilih dengan siapa aku bergaul dan ngopi, namun aku tipe orang yang saat pertama orang itu terlihat terbuka denganku, aku akan lebih terbuka dengannya.

Apa salahnya kita mencari ketenangan dan kebahagiaan sendiri, itu pikir awalku.

Namun, perlahan mengerti, “Egois, jika kita hanya mengandalkan orang datang kepada kita, tanpa kita mencoba mengawali datang terlebih dahulu padanya.”

Begitulah tamparan Fahruddin Faiz dari ngaji filsafatnya yang sering kuputar tiap kali aku menthok dan ingin mengetauhi lebih dalam tentang pengembangan diri dari sisi filsafat kejiwaan dan saat raga sedang tak terkendali.  

Kritik Sebagai bentuk peduli

Saat kritikan tertuju padaku, aku sangat bahagia karena masih ada yang peduli dan memberitahu jika ada celah yang harus aku perbaiki. Alhasil, aku sadar akan kekuranganku dan aku juga sedang berusaha untuk membenahinya.

Analoginya, saat baju kita bolong karena terkena setrika, dan seorang teman melihatnya. Saat ia mengatakan, “Kau ada celah di sini.”

Itu artinya peduli. Ia berharap kita bisa ganti atau menambal baju itu terlebih dahulu. Ia tidak ingin kamu malu ketika bertemu orang lain.

Aku lebih menghargai hal ini yang langsung meluncurkan kritiknya langsung padaku, daripada mereka yang dari kejauhan hanya menyindiri tidak jelas, atau bahkan mereka yang diam tapi dalam hatinya risih melihatku dan berusaha menyingkirkan.  

Di sisi lain, ada hal yang tidak kalah menyakitkan jika dunia salah paham dengan segala sesuatu yang sedang kita perjuangkan dan kita tidak mampu menjelaskan, dengan artian dunia salah menafsirkan diri kita.

Tetapi, tidak menutup kemungkinan ada kebenaran yang terselip di sana dan kita luput olehnya. Apapun itu tetap sempatkan sesegera mungkin menginstropeksinya.

Simple, jika ada pandangan yang bertentangan dengan dirimu yang sebenarnya dan kita tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata yang nantinya akan terkesan pembelaan belaka. Biarkan saja, karena pada dasarnya dunia hanya mengetauhi namamu dan secuil potongan kehidupan yang mereka lihat lalu mereka simpulkan. Namun, kita sendiri yang paham akan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sedang kita perjuangkan. Tapi tetap kembali pada prinsip awal, tidak menutup telinga atas semua yang dunia katakan, karena bisa jadi kita luput terhadapnya dan memang perlu ada perbaikan. Kendati, yang perlu kita garis bawahi di sini ialah dengan memberi perhatian pada hal yang membawa kita pada perbaikan, sedikit tidak apa yang terpenting signifikan.

“Tidak ada siapapun yang berhak menulis sesuatu dalam buku diary mu. Sama halnya tidak ada seorangpun yang bisa mengendalikanmu kecuali kamu sendiri yan mengizinkan orang lain mengendalikanmu. Ini hidupmu, ini kebebasanmu. Namun, ingat setiap kebebasan diri selalu terbatas dengan hak orang lain atas diri kita”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *