Membingkai Nilai Profetik Dalam Gerak Ikatan

Warta1085 Dilihat

Ketika manusia kembali kepada fitrahnya maka konsep ini dapat dikatakan sebagai Humanisme- teosentris yang mana manusia kembali kepada fitrahnya diciptakan Allah sebagai khalifah dimuka bumi.

Tujuannya sebagai khalifah untuk memanusiakan manusia dan menjaga buminya Allah SWT.

Nahi munkar atau mencegah kemunkaran (Liberasi) mengandung arti pembebasan.

Pembebasan yang dimaksud disini adalah pembebasan manusia dari kungkungan penindasan yang dilakukan oleh para kapitalis dan eksploitator.

Pembesan dari segala bentuk kegelapan seperti kebodohan kemiskinan keterbelakangan dan lain sebagainya. Konsep pembebasan menjadi salah satu cara dalam menggapai perkembangan.

Tu’minuna Billah (Transendensi) Mengandung makna tuntutan manusia untuk beriman kepada tuhannya.

Maksud dari beriman kepada Tuhannya disini adalah pengembambalian segala sesuatu pada hakikatnya yang paling mendasar.

Pada konteks ini semua yang dilakukan oleh manusia atau dua konsep sebelumya hanya ingin mendapatkan ridha dari Allah SWT.

Teologi Al-ma’un Muhammadiyah

Sebagai gerakan sosial keagamaan Muhammadiyah mempunyai cita-cita sosial yakni mensejahterakan umat dan memakmurkan masyarakat, maka dari itu sampai sekarang Muhammadiyah masih mengembangkan amal usahanya.

Berkaitan dengan sosial kemanusiaan yang harapannya dapat mewujudkan masyarakat yang sejahera.

Melalui amal usaha yang didirikannya, Muhammadiyah mulai berdakwah dengan masyarakat dengan konsep liberasi dan Humanisasi yang akhirnya pada konsep transendensi.

Teologi Al-ma’un menjadi landasan gerak Muhammadiyah di bidang sosial kemasyarakatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *