Menu

Mode Gelap
Kasus Pembakaran Rumah Sempurna Pasaribu di Tanah Karo: Polda Sumut Tambah Tersangka Baru Polri Gunakan Teknologi Canggih untuk Seleksi Akpol 2024 Terungkap! Identitas dan Peran 2 Eksekutor dalam Pembakaran Rumah Sempurna Pasaribu Rektor UM Tapsel Kukuhkan 146 Guru Profesional, Kepala LLDIKTI Wilayah I: Jangan Berbisnis Apapun Di Sekolah Kejahatan Siber Merebak: Pembelajaran Preventif Masyarakat Kunjungan Mahasiswa MBS UIN Syahada Sidimpuan ke UMKM: Memahami Proses Bisnis dan Pemasaran Digital

Artikel

Nasionalisme dalam Sebuah “Peci”

badge-check


					Foto Soekarno sedang berpidato Perbesar

Foto Soekarno sedang berpidato

Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia, peci yang memiliki ciri khas.

Meskipun Songkok yang mirip dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita.

Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.

Itulah awal mulanya Soekarno mempopulerkan peci, yang dituturkan dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams.

Sebenarnya Sokerno bukanlah intelektual yang pertama menggunakan peci. Pada 1913, dalam rapat SDAP ( (Sociaal Democratische Arbeiders Partij) di Den Haag.

Dalam rapat itu mengundang Tiga politisi yang kebetulan menjalani pengasingan di Belanda.

Douwes Dekker, Tjpto Mangunkusumo, dan Kihajar Dewantara saat itu menunjukkan identitas mereka masing-masing.

Demikian Ki Hajar menggunakan topi fez Turki berwarna merah yang kala itu populer di kalangan nasionalis.

Tjipto mengenakan kopiah dari beludru hitam. Sedangkan Douwes Dekker tak memakai penutup kepala.

Tampaknya Sukarno mengikuti jejak gurunya, lebih memilih peci beludru hitam.

Kemudian Soekarno juga mengkombinasikan peci, jas dan dasi dengan tujuan menunjukkan kesetaraan bangsa Indonesia dan Belanda.

Sejak saat itu disaat ia tampil didepan publik Soekarno hampir selalu mengenakan peci hitamnya.

Seperti dalam pembacaan pledoinya “Indonesia Menggugat” di Pengadilan Landraan Bandung, 18 Agustus 1930.

Kemudian peci menjadi simbol nasionalisme, yang mempengaruhi cara berpakaian kalangan Intelektual, termasuk pemuda kristen.

  • Sumber: historia.id
Print Friendly, PDF & Email

Baca Lainnya

Food Estate dan Kesejahteraan Masyarakat

30 Mei 2024 - 13:51 WIB

Husni Mubarak Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Ekonomi USU/ Penulis/ Ist

Kunjungan Kapolres Madina ke Pantai Batu Ruso Tabuyung: Dorong Peningkatan Pelayanan Wisata

14 April 2024 - 21:00 WIB

Empowerment IMMawati: Meningkatkan Kapasitas dan Pengaruh Untuk Kesetaraan Gender

1 April 2024 - 22:01 WIB

Karakter Menjadi Puncak Akhir Pendidikan

3 Februari 2024 - 20:44 WIB

Kontroversi Boikot Produk Menjadi Konflik Nasional

21 November 2023 - 13:43 WIB

Trending di Artikel