Menu

Mode Gelap
Kasus Pembakaran Rumah Sempurna Pasaribu di Tanah Karo: Polda Sumut Tambah Tersangka Baru Polri Gunakan Teknologi Canggih untuk Seleksi Akpol 2024 Terungkap! Identitas dan Peran 2 Eksekutor dalam Pembakaran Rumah Sempurna Pasaribu Rektor UM Tapsel Kukuhkan 146 Guru Profesional, Kepala LLDIKTI Wilayah I: Jangan Berbisnis Apapun Di Sekolah Kejahatan Siber Merebak: Pembelajaran Preventif Masyarakat Kunjungan Mahasiswa MBS UIN Syahada Sidimpuan ke UMKM: Memahami Proses Bisnis dan Pemasaran Digital

News

Kepentingan Kursi Menuju 2024 Dan Perempuan

badge-check


					Kepentingan Kursi Menuju 2024 Dan Perempuan Perbesar

Oleh: Cahyati Daulay

PADANGSIDIMPUAN-Tinggal satu bulan lagi bahkan tinggal hitungan hari tahun 2024 akan tiba, ada apa dengan tahun ini? sepenting apa tahun ini? sehingga semarak itu cerita tentang 2024 apakah hanya karena tahun itu adalah tahun politik, sebagai tahun penentu siapa pemimpin kita, dan penentu berbagai kursi penting di negeri ini. Mereka yang duduk di kursi penting itulah kelak yang akan menjadi pencetus peraturan-peraturan baru yang mana kita akan dipaksa untuk menaatinya.

Tentu menuju 2024 berbagai isu yang diangkat untuk menarik simpati dan empati masyarakat demi menunjang kepentingan kursi di tahun politik yang akan segera datang. Tidak ada yang salah dengan upaya politik itu karena pada hakikatnya politik itu berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan yang seharusnya tujuan politik itu adalah untuk kepentingan bersama yaitu kesejahteraan bersama.

Telinga dan mata “melihat dan mendengar” potret politik yang saban waktu tak terlihat jelas tujuan kepentingannya untuk siapa. Terekam jeritan memilukan karena impitan kemiskinan, jeritan mereka perempuan korban kekerasan yang tak kunjung menemui titik terang bagaimana keadilan itu sebenarnya.

Mereka peduli apa mereka hanya berseru karena berebut “kursi” terekam jerit memilukan korban kekerasan kerap sekali menjadi pihak yang disalahkan dan akhirnya mereka tersisihkan. Kekerasan terhadap perempuan sudah menjadi tagline global yang seharusnya mempunyai ruang dan perhatian khusus dan serius. Tapi apa yang terdengar kini hanya soal politik panas dingin saja.

Bagaimana perempuan di 2024 siapa yang peduli ini? pemimpin yang mana? bahkan perempuan diangkat sebagai isu untuk kepentingan politik itu, memengaruhi tanpa memberikan bukti nyata pergerakannya, memengaruhi mereka kaum perempuan yang minim literasi hanya demi suara yang akan diberikan pada tahun 2024. Memberikan janji manis dengan berbagai rayuan terkhusus kepada kaum ibu yang tidak tau apa-apa. Mereka hanya dianggap sebagai pelengkap semata sebagaimana anggapan bahwa perempuan adalah makhluk kedua dan kini hanya sebagai pelengkap politik para politikus di negeri ini.

Padahal perempuan yang jumlahnya cukup banyak hampir menyamai jumlah laki-laki masih di jadikan alat politik sedemikian itu. Padahal sebenarnya perempuan adalah aset dan potensi yang luar biasa dalam upaya menggerakkan pembangunan ekonomi dan pendidikan.

Berdasarkan data dari KPU,  jumlah pemilih perempuan di Indonesia mencapai lebih dari 96 juta orang atau sekitar 51 persen dari total jumlah pemilih. KPU menilai bahwa pemilih perempuan memiliki pengaruh besar dalam menentukan hasil Pemilu karena mereka cenderung lebih kritis dan terbuka dalam memilih calon yang akan dipilih. Berdasarkan dari jumlah banyaknya pemilih perempuan tentu perlu kecerdasan dalam memilih agar nantinya segala kepentingan terkait perempuan dapat terlaksana dengan baik. Mempelajari dengan seksama terkait visi misi setiap calon terkait perempuan sebelum memutuskan untuk memilih siapa.

Perempuan merupakan objek politik, objek dari isu pembangunan yang digaung-gaungkan demi kursi pada tahun 2024. bukan masalah besar atau bukan suatu kesalahan jika dalam politik perempuan menjadi isu penting yang akan di angkat dan dibicarakan tetapi saya berharap dan semua perempuan berharap saat kampanye bairlah menjadi isu yang hangat dibicarakan namun ketika sudah selesai proses pemilihan ada bentuk pengaplikasian perubahan dari isu-isu yang diangkat tersebut.

Namun demikian ironisnya saat ini, tentu hal ini dapat di minimalisir dengan hadirnya perempuan dalam politik dengan harapan bahwa perempuan yang tergabung dalam politik itu yang akan terus bersuara lantang dan menjadi garda terdepan yang akan selalu menyuarakan berbagai kepentingan tentang perempuan dengan demikian sedikit demi sedikit akan menepis pandangan bahwa meskipun perempuan makhluk kedua tetapi ia adalah makhluk yang akan selalu diperhitungkan.

Sesuai kuota 30 persen keterwakilan perempuan dalam pemilu sebagaimana di amanatkan dalam (Pasal 10 Ayat (7) dan Pasal 92 Ayat (11) UU No 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum). akan menjadi dasar dan harapan kepentingan perempuan akan diperjuangkan oleh perempuan dalam pemilu mendatang.

Print Friendly, PDF & Email

Baca Lainnya

HMJ-EP UMSU Menorehkan Prestasi yang Membanggakan

11 Juli 2024 - 21:58 WIB

HMJ-EP UMSU Menorehkan Prestasi yang Membanggakan

Rektor UM Tapsel Kukuhkan 146 Guru Profesional, Kepala LLDIKTI Wilayah I: Jangan Berbisnis Apapun Di Sekolah

2 Juli 2024 - 15:04 WIB

Kejahatan Siber Merebak: Pembelajaran Preventif Masyarakat

29 Juni 2024 - 22:56 WIB

Kunjungan Mahasiswa MBS UIN Syahada Sidimpuan ke UMKM: Memahami Proses Bisnis dan Pemasaran Digital

23 Juni 2024 - 18:43 WIB

Lewat PKM, Mahasiswa S2 Ekonomi Syariah dan Dosen UIN Syahada Bantu Gen Z Melek Keuangan Syariah

23 Juni 2024 - 18:14 WIB

Trending di Daerah