Menyadari beratnya amanah yang ditanggung seorang pemimpin oleh sebab itu hendaknya kita sebagai Ummat Islam berlomba-lomba menyiapkan pemimpin kita di masa depan kelak.
Dengan cara belajar memahami Al-Qur’an dan Sunnah dan kemudian berkomitmen mengamalkannya.
Pernah suatu waktu Rasulullah ﷺ sedang menjelaskan tentang hari Kiamat, kemudian seorang Badui bertanya “kapankah kiamat itu terjadi”
Selanjutnya Rasulullah ﷺ menjawab, “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah Kiamat”.
Rupanya, Badui ini tidak langsung mengerti jawaban dari Rasulullah ﷺ dan bertanya kembali, “Bagaimana amanah itu disia-siakan?”.
Dan Nabi ﷺ kembali menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.”
Dalam buku Enseklopedia Akhir DR. Mahir Ahmad memberikan makna terhdap hadist yang diatas.
Pemahaman dari amanah bukan hanya terbatas pada seseorang yang memberikan amanah kepada saya sampai waktu tertentu, lalu ketika ia kembali, maka saya berikan amanah tersebut kepadanya.
Tapi amanah itu berarti segala sesuatu. Harta yang ada ditangan kita, tubuh kita juga amanah, ilmu kta adalah amanah, kepemimpinan adalah juga amanah, kekuasaan ialah amanah, istri dan anak-anak juga amanah, rezeki dan keimanan juga merupakan bagian amanah.
Dapat disimpulkan bahwa setiap manusia yang hidup di dunia ini adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.
Kerena pemimpin memiliki amanah, amanah itu haruslah di pertanggung jawabkan.
Oleh karena itu kita sebagai Ummat Islam haruslah berlomba-lomba dalam menjadi pribadi yang amanah. Dengan begitu kita telah berupaya untuk menyiapkan pemimpin amanah di masa depan kelak.






