Cerpen || Cinta Ibu Tak Bersuara Karya Zaidan Akbar

Warta1054 Dilihat

Azizah mendekati Normah dan kemudian Azizah meraih tangan ibunya itu. Lalu dengan perlahan Azizah mencium tangan keriput itu.

“Ibu, maafkan aku! aku tahu kau telah bekerja keras menyekolahkan aku dan Aswin hingga akhirnya kini dirimu sakit seperti ini,” gumam Azizah dalam hatinya.

Tak berapa lama, kelopak mata sang Normah mulai terbuka. Normah bangun dari tidurnya. Ia menoleh dan menatap putri sulungnya yang terisak-isak. Normah memberi isyarat dengan tangannya agar Azizah menghapus air matanya yang tertumpah itu.

Azizah lekas-lekas menyeka air matanya di hadapan ibu. Normah pun tersenyum melihat kedatangan anaknya yang sudah begitu lama ia rindukan.

“Ibu istirahat saja, biar ibu cepat sembuh” ujar Azizah pada ibunya sambil diikuti dengan gerakan isyarat tangan Azizah.

Normah terlihat mengangguk sebagai tanda bahwa ia mengerti apa maksud Azizah itu.

Kemudian Normah menutup kedua matanya kembali. Azizah langsung mengusap-usap rambut ibunya. usapan itu telah mengantarkan Normah terlelap dalam tidurnya.

Keesokannya di pagi hari, Azizah bangun kesiangan. Azizah melihat beberapa hidangan sudah tersedia untuk sarapan. Sedangkan Normah telah pergi pagi-pagi sekali. Mungkin Normah sudah merasa cukup baik sehingga ia merasa perlu untuk kembali bekerja.

Pada siang itu, Azizah berniat hendak melaksanakan sholat Zhuhur. Azizah bergegas untuk berwudhu Namun malang tak bisa di tolak, Azizah terpeleset di pelantaran kamar mandi yang terbuat dari beberapa bilah papan yang sudah berlumut.

Akhirnya Azizah terjungkal dan kakinya terasa sakit sekali. pergelangan tumitnya terkilir. Azizah mengerang dan meringis.

Pada saat yang sama kebetulan Normah pulang dan ia melihat kondisi anaknya yang tak mampu berdiri itu di pelantaran kamar mandi.

Dia terlihat was-was walaupun tak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya. Dia langsung menggendong putrinya yang sudah SMA itu menuju kamar.

Normah tak bisa berucap, Ia memang perempuan yang bisu tapi hatinya penuh kecemasan terhadap keadaan putrinya semata wayangnya. Normah membaringkan Azizah di ranjang tempat tidurnya.

Dia berlari ke dapur mengambil segelas air putih dan membantu Azizah duduk untuk meminum segelas air putih itu.

Terlihat Normah ‘Si Ibu Bisu’ itu sedang mengurut dan memijit pergelangan kaki putrinya. Sementara Azizah tetap mengerang kesakitan. Normah mencoba menenangkan putrinya yang kesakitan dengan bahasa isyaratnya namun Azizah tak berhenti mengerang.

Normah tampak kebingungan dan dalam kemelut perasaan itu, Normah langsung mendekap Azizah begitu erat hingga Azizah merasa lebih tenang sampai akhirnya Azizah tertidur dalam pangkuan ibunya itu.

Pada malam harinya, gerimis mulai berjatuhan sedangkan tubuh Azizah terasa panas. Azizah demam dan demamnya tinggi sekali.

Sementara di luar gerimis telah berubah menjadi hujan yang lebat. Petir-petir bernyanyi lantang, kilat seperti memotret seisi bumi.

Rasa cinta Normah yang dalam pada sang putri membuat Normah tak peduli pada cuaca yang buruk itu. Normah keluar rumah ia berniat menjemput seorang mantri kesehatan yang bernama Johandi. Rumah mantri itu berada di Desa tetangga yaitu Desa Sei Sanggul.

Normah berjalan kaki ke rumah mantri itu tanpa alas kaki. Ia berjalan cepat-cepat, bajunya basah kuyup diguyur hujan. Tiba di rumah Pak Johandi, Normah menggedor pintu yang sedang tertutup itu.

Pak Johandi membuka pintunya. Terlihat sosok wanita bisu berdiri di depan rumahnya. Pak Johandi tak mengerti maksud dan tujuan wanita yang berbahasa isyarat itu. Normah sulit berkomunikasi namun ia terus mencoba menguraikan maksudnya dengan bahasa isyarat yang ia bisa.

Akhirnya sang mantri pun dapat mengerti maksud Normah. Sungguh mulia hati Pak Johandi ini dan ditambah lagi dengan rasa tanggung jawabnya sebagai petugas medis. Demi kemanusiaan, Pak Johandi rela hujan-hujanan mengikuti jejak Normah hingga sampai ke rumah Normah.

Di rumah sederhana itu, Pak Johandi mulai memeriksa kesehatan Azizah dan setelah diberi obat, Pak Johandi ingin beranjak pulang. Normah tampak mengulurkan beberapa lembar uang pada Pak Johandi, namun Pak Johandi menolaknya sambil tersenyum kecil.

Esok hari, langit terbentang begitu megah, matahari menampakkan diri dengan gagah. Demam Azizah mulai mereda. Normah tak lupa memasak bubur untuk putrinya itu. Sementara satu-persatu ibu-ibu berdatangan mengantar pakaian kotor untuk dicuci. Ibu-ibu itu sudah menjadi langganan Normah selama ini.

Azizah menyaksikan itu dari balik kamarnya. Mata Azizah mulai digenangi air, hatinya merasa sedih dan haru menatap pengorbanan sang ibu. Normah telah menyiapkan kayu penyangga kaki buatan Normah sendiri. Penyangga yang dibuat dengan rasa sayang ini bertujuan agar Azizah bisa berdiri tegak.

Di hari selanjutnya, kampung kecil ini menyelenggarakan pasar malam. Orang-orang bergembira menyambutnya.

Normah cukup faham dengan perasaan Azizah. setelah kepulangannya, Azizah belum sempat kemana-mana karena kakinya yang masih terasa sakit sejak kemarin.

Untuk menghibur sang anak, Normah menggendong anaknya ke pasar malam sebab Azizah belum kuat berjalan sendiri. Tubuh siswi SMA yang mendekap di belakang badan Normah itu tak terasa berat. Bagi Normah rasa lelahnya ini telah sirna dan berganti dengan rasa bahagia karena sudah membuat hati Azizah ceria kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *