Sehingga sudah sangat jelas bahwa Islam akan menaungi siapapun baik itu yang kafir bahkan yang tidak beragama sekalipun.
Disamping itu, sebagai seorang yang beragama Islam sejatinya akan membuat individu tersebut menjadi sosok yang peduli terhadap realitas sosial dan memiliki spirit pembaharuan dan pembaruan kehidupan ummat manusia tanpa memandang agama dan status sosialnya.
Hal ini dikatakan oleh Nurcholis Madjid bahwa sikap religiusitas seseorang akan menumbuhkan kesadaran sosial yang tinggi baik itu kesadaran sebagai sesama manusia yang toleran dan humanis.
Sehingga seseorang yang semakin dekat dan cinta kepada Tuhannya, maka ia akan semakin dekat dan cinta kepada hamba (makhluk) Tuhan yang lain pula.
Kecintaan pada Tuhan bukan lantas membuat seseorang tidak peduli terhadap manusia dan berbagai persoalan lain.
Apabila kemiskinan, kekerasan, dan penindasan serta ketidakadilan yang membuat masyarakat terpuruk masih merajalela, maka wajah Islam hari ini belum mampu menjadi rahmatan lil’alaim, Islam belum mampu menjadi source of solution atau problem solver bagi kemanusiaan atau bahkan Islam hanya akan menjadi source of problem/ part of problem (sumber/ bagian dari masalah) semata.
Seperti yang dikemukan oleh Fuad Jabali yang dikutip oleh Abuddin Nata bahwa Islam rahmatan lil’alamin adalah memahami Alquran dan Hadis untuk kebaikan sesama manusia, alam dan lingkungan, serta memerikan kesejukan, kedamaian, ketenteraman, dan keharmonisan dalam kehidupan seluruh ummat manusia dalam bentuk kasih sayang, kemanusiaan, tolong menolong dan saling menghormati.
Representasi Islam Rahmatan lil’alamin Dalam Sejarah Hidup Muhammad yang ditulis oleh Husain Haikal menyebutkan beberapa kebijakan Nabi seperti Piagam Madinah, Perjanjian Hudaibiyah, Khutbah Haji Wada, pembagian harta rampasan perang dan lainnya adalah misi kemanusiaan.
Piagam Madinah yang disetujui oleh semua penduduk Madinah (Islam, Yahudi, Majusi, Nasrani dan seluruh suku di dalamnya) yakni sebanyak 47 pasal yang berisikan tentang pengakuan terhadap perbedaan agama, suku, bangsa, budaya, menghormati agama dan keyakinan, bebas menentukan jalan hidup, bebas bepergian, saling memberikan pengamanan, mematuhi pimpinan, menyelesaikan masalah dengan musyawarah dan sebagainya.
Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam juga dijumpai saat Umar bin Khattab menaklukkan Yerussalem.
Pada saat itu Khalifah Umar melarang ummat Islam merusak dan merampas tempat ibadah penganut Yahudi (Sinagog), melarang menyakiti anak-anak, kaum wanita, rumah penduduk, dan sebagainya.
Menurut Al-Waqidi pada saat perang Hunain, ummat Islam memperoleh 6000 tawanan perang, 24.000 unta dan 40.000 kambing.
Nabi SAW dipaksa prajuritnya dari Bani Tamim, Sulay dan Fizarah agar membagikan harta rampasan perang itu.
Rasululloh menginginkan agar harta tersebut diberikan kepada para mu’allaf dan membebaskan para tawanan yang harus berpisah dengan anak dan istri mereka.
Namun hal ini ditentang keras oleh sebagian pengikutnya hingga jubah nabi hampir sobek.
Namun dengan kesabaran yang beliau miliki, ia terus memberikan pengertian hingga akhirnya mereka menerima kebijakan Nabi.
Pada dasarnya keimanan lah yang membuat seorang muslim menjadi rahmat bagi seluruh alam dan inilah titik perbedaan antara orang Islam yang beriman dengan yang tidak beriman, orang beriman dengan orang kafir dan orang beriman dengan orang yang tidak bertuhan.
- Ditulis Oleh Pheby Mawaddah
- Penulis adalah seorang mahasiswa Universitas Negeri Medan
- Penulis aktif di Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai Sekretaris Bidang IMMawati PK IMM HAMKA UNIMED






