Menu

Mode Gelap
Kasus Pembakaran Rumah Sempurna Pasaribu di Tanah Karo: Polda Sumut Tambah Tersangka Baru Polri Gunakan Teknologi Canggih untuk Seleksi Akpol 2024 Terungkap! Identitas dan Peran 2 Eksekutor dalam Pembakaran Rumah Sempurna Pasaribu Rektor UM Tapsel Kukuhkan 146 Guru Profesional, Kepala LLDIKTI Wilayah I: Jangan Berbisnis Apapun Di Sekolah Kejahatan Siber Merebak: Pembelajaran Preventif Masyarakat Kunjungan Mahasiswa MBS UIN Syahada Sidimpuan ke UMKM: Memahami Proses Bisnis dan Pemasaran Digital

Cerita Pendek

PETAKA MANDI PASANG MANDARAT KARYA FAUZAN AZMI

badge-check


					PETAKA MANDI PASANG MANDARAT KARYA FAUZAN AZMI Perbesar

Di tepian Selat Melaka ada sebuah desa yang jauh dari perkotaan, hiruk pikuk perkotaan tidak kita jumpai disana. Dengan hamparan sungai yang panjang menjadi khas di Desa ini.

Pasalnya berbagai aktivitas dilakukan disana, mulai dari mandi, mencuci pakaian, bahkan sebagai tempat mencari nafkah masyarakat disana.

Konon katanya aliran sungai ini banyak mengandung kisah sejarah sehingga ada legenda tercipta disitu dan ikan yang ada di sungai itu menjadi ciri khas desa itu.

Yaa namanya juga di Desa, tentu sangat berbeda jauh dengan perkotaan. Disana anak anak masih terlihat memainkan permainan tradisonal walaupun kita mengetahui bahwasanya ini sudah memasuk era industry 4.0.

Ada yang bermain gasing, bermain layangan, bermain bola kaki dengan gawang sandal dan durasi waktu adzan magrib berkumandang dan adapula bagambokh (bahasa daerah setempat yang artinya mandi-mandi).

Walaupun disana jauh dari perkotaan , anak-anak disana tetap mengenyam bangku pendidikan. Sebab disana fasilitas pendidikan jugaa ada mulai dari Sekolah Dasar hingga tingkatan Sekolah Menengah Atas.

Masyarakat disana mayoritas bermata pencarian sebagai nelayan, maka tidak jarang anak anak sering ditinggal ayahnya untu melaut. Karena nelayan disana jika sudah melaut menangkap ikan maka seminggu kemudian barulah pulang dengan harapan membawa segepok uang.

Suata hari salah satu anak nelayan bernama Moge dengan kawannya bernama Sambril, Haris, dan Kidul bermain disalah satu tempat peninggalan belanda. Bangunan peninggalan belanda itu dinamai “Dok”. Pasalnya dahulu tempat itu adalah tempat kapal kapal bersandar.

 Disana mereka bermain guli (kelereng).

“Mbil, guli ku uda habis ni”. Kata Moge ke Sambril kawannya

“Laaah, jadi aku harus bilang WAW gitu”. Canda Sambril menyahuti Moge

“Gitu kali kau jadi kawan yaa, minta la dulu dikit guli mu itu. Kan kau menang dari kami”. Sambung moge lagi

Kidul pun memotong percakapan Moge dengan Sambril dengan berkata

“We, mandi laut aja kita ayo. Sekalian raba udang” tandas Kidul

(Mandi laut atau disebut ajakan anak anak desa jika mau mandi ke sungai dan biasanya sekalian nangkap uda di lubuk lubuk tertentu tanpa memakai alat bantu alias tangan sendiri merabanya)

“Ayolah, lagian aku balik modalnya. Kalian yang kalah hahaha”. Sahut  Haris sambil mentertawai Moge dan Kidul

Mereka pun bergegas meninggalkan Dok dan segera menuju bibir sungai, mereka mandi di tangkahan yang baru selesai dari dana desa dan disini jugalah tempat ibu ibu mencuci maupun dan mandi.

Nelayan setempatpun biasanya menaikkan ikan tangkapannya di tangkahan kecil ini sebelum dijual langsung.

“Ris, lomba renang kita ketengah. Berani gak ?”. kata Kidul ke Haris saat mereka sudah mandi dan berenang

“Mooh, siapa takut. Nanti siapa kalah pulangnya gak pake baju yaa”. Jawab Haris dan menantang Kidul kembali

“Boleh. Moge ya jadi jurinya buat lihatkan kita siapa yang menang”. Sambung Kidul menawarkan Moge sebagai jurinya

Moge pun memulai permainan, Haris dan Kidul berlomba adu cepat berenang dan Haris pun memenangkan lomba.

Setelah capek bagambokh (berenang) dan air pun mulai surut sesuai dengan apa yang mereka niatkan untuk meraba udang, maka mereka berpencar dan bergegas kelubuk lubuk yang diyakini ada udangnya.

“Weeee, aku dapat nih lumayan gede”. Jerit Moge dari kejauhan (Padahal yang ia dapat hanya sebesar ibu jari)

Kidul pun mendekati Moge dan berkata

“Alaah ku kiranya kek betis besarnya”. Kidul mentertawainya

“Moge moge betul la pulak nama mu si moge. Aku aja dapat ikan botot gak sombong” Sahut Sambril dengan ketawa besar

(Sementara Haris bukan ahlinya dalam hal ini, maka dia Cuma bisa diam saja)

Singkatnya setelah lama bagambokh berjam jam kulit mereka pun mulai keribut dan perut mereka keroncongan. Mereka pun memutuskan untuk naik kedaratan dan pulang ke rumah.

Diperjalanan menuju rumah masing masing Kidul yang tidak memakai baju ditertawai karena kalah lomba renang. Mereka pun berpisah dan ke Rumah masing masing.

(Maklum, begitulah kehidupan di Desa dengan kesederhanaan saja sudah cukup membuat anak anak disana bergembira)

Lanjut di Rumah Moge setelah sampai Nur ibunya Moge langsung disuruh ibunya langsung makan setelah itu tidur

“Naakk, sana makan dulu baru kaun tidur jangan asyek main aja kerja mu”. Kata Nur sambil mengusap mengambilkan makanan Moge

“Iyaa mak, makan la ini. Apanya lauk kita ?”. Tanya Moge

“Uda jangan banyak Tanya makan aja ini cepat”. Jawab Nur dan langsung menyuapkan nasi berlaukkan udang hepi (kecepe) ke mulut Moge

Nasi sepiring itu pun habis dilahap Moge dan ibunya pun langsung menyuruh moge untuk tidur.

Hari pun berlalu menjadi malam. Nur, Moge dan adik adiknyalah yang berada di rumah. Sementara ayahnya pergi melaut menangkap ikan di laut lepas sampai perbatasan Indonesia Malaysia.

Maka ayahnya hanya pulang jika sudah seminggu melaut dan seminggu di daratan baru pergi lagi.

Begitulah mayoritas nelayan disana. Mereka mengandalkan pancing tanpa umpan atau dikenal di Desa itu dengan sebutan “Rawe” yang sangat ramah lingkungan itu. Ikan yang didapatkan pun kebanyakan ikan pari, yaa walaupun sebenernya apa saja yang menyenggol “rawe” tadi bakalan dapat dan terkait dimata pancing.

“Mak, kapanya ayah pulang ?”. Tanya Moge dikala jangkrik sahut menyabut di luar rumahnya

“Kenapa kau tanyak naak ?. mungkin besok”. Jawab Nur meyakinkan Moge

“Asyiiikkk, berarti besok pasang mandarat yaa pak ?”. Lanjut moge kegirangan

(Pasang mandarat itu ketika air sungai naik dan anak anak desa disana biasanya mandi ramai ramai)

“Iyaah, tadi saja sudah naikkan tapi tak begitu dalam” Sahut Nur lagi

“Horeee, besok awak mandi pasang yaa maak, heheh” tanya moge lagi sambil merayu

(Sebenarnya Moge itu sangat dilarang Ibunya mandi mandi yang begituan, apalagi mandi di sungai. Jadi selama ini dia itu mandi ke sungai secara diam diam)

Ibunya pun memperbolehkan moge mandi pasang besok

“Yaa uda besok kamu boleh mandi pasang tapi hati hati yaa awas tenggelam”

“Iyaaa maak, mekasi yaa mak”. Jawab Moge dan bertanya kembali

“Maak, besok tamat sekolah ini awak melanjutnya ke Pesantren yaah maak. Pengeen kali awk yaa mak”. Kata haris sambil berlinang air mata

Didalam hati ibunya berkata “Kek manalah aku menyekolahkan mu di luar naak, apalagi di pesantren. Selain duit tidak ada aku juga kwatir jika anak ku ini sekolah keluar”.

Nur pun hanya diam dan tak mampu menjawab, lalu nur mengalihkan pembicaraan.

“Eh Naak, besok kau mau dimasakkan apa ? sahuur nur mengalihkan pembicaraan

“Terserah deh mak. Awak mau tidur duluan”. Jawab Moge dengan kesal

Malam pun larut, ternyata subuh itu ayah moge sudah pulang melaut. Sementara moge yang belum terbangun belum mengetahui bahwa ayahnya telah pulang

“Buu, anak kita mana ?”. Tanya sang ayah

“Itu masih tidur yaah”. Sahut Nur

“Ooo nanti malam aja laah, ayah mau kasi dia mainan. Kemarin pas di laut ayah nemukan mainan hanyut yang masih bagus”. Tegas sang ayah sambil menunjukkan mainan yang didapat

 (Singkatnya hari pun sore, air pasang pun mulai menggenangi pemukiman di Desa itu. Moge yang sebelumnya sudah meminta izin kepada ibunya untuk mandi pasang bersiap untuk pergi ke tempat pemandian dimana banyak anak anak mandi disana. Tepatnya disalah satu lapangan sekolah)

“Maak, awak pergi yaa mandi pasang”. Kata moge sambil berlari menuju tempat mandi pasang

“Iyaa, hati hati. Pulangnya jangan magrib magrib yaa”. Tegas nur

Sesampainya Moge dilapangan sudah terlihat banyak anak anak mandi disana. Ada yang lari lari, ada yang berenang pakai pelampung dan ada pula yang menyelam-nyalami kolong jembatan jalan di depan tempat pemandian itu.

Mbuuuurrrrrr suaran cipratan Moge yang melonjat…

Moge pun langsung mengikuti kawannya menyelami kolong jembatan jalan itu, tapi naas. Ketika menyelami kolong jembatan jalan itu belum sampai ke ujung Moge kehabisan nafas dan terbentur ke kolong jembatan jalan itu sehingga Moge tidak muncul lagi ke permukaan.

Kawan kawannya disana pada heran dan ketakutan. Kawannya pun berteriak memanggil manggil Moge
“Mogeeee…..Mooogeeeee……Mogeeeee”. Teriak kawan kawannya sahut menyahut

Tak lama kemudian salah seorang kawannya memanggil Ayah moge dan seketika Desa tempat mandi pasang itu pun mendadak ramai.

Sang Ayah pun turun dan langsung menyelami lorong jembatan jalan itu kembali. Benar apa yang di duga orang disitu bahwa Moge ditemukan dalam keadaa tidak bernyawa lagi.

Sang ayah pun langsung membawa anaknya kepermukaan dan membawanya pulang untuk melaksankan fardu kifayah anaknya. Dengan penuh rasa duka keluarga Moge mengikhlaskan kepergiannya yang sebelumnya ia ingin pergi melanjutkan sekolah ke pesantren, ternyata dia pergi dari dunia untuk selamanya.

Print Friendly, PDF & Email

Baca Lainnya

Kunjungan Kapolres Madina ke Pantai Batu Ruso Tabuyung: Dorong Peningkatan Pelayanan Wisata

14 April 2024 - 21:00 WIB

Bhabinkamtibmas Polsek Sipirok Gandeng Tokoh Agama: Bersama Menuju Pemilu Damai

2 November 2023 - 02:34 WIB

Bayaran Kesalahan|Cerpen Ramli Lahaping

1 Januari 2022 - 23:50 WIB

Bayaran

Cerpen || Kehilangan Sebab Saling Bersama

30 Juli 2021 - 15:30 WIB

kehilangan

Cerita Dibalik Cita-cita, Sepiring Nasi Goreng dan Teh Hangat

5 Juli 2021 - 22:44 WIB

Nasi Goreng
Trending di Cerita Pendek