Guru Antara Terkenang atau Terbuang

Pemuda892 Dilihat

Guru yang lebih suka dipanggil Kak Fulan kala diluar sekolah, yang terbuka pada saran dan nasehat, bahkan dari murid muridnya.

Guru yang sepeninggal ibu, enggan menerima bayaran dari jasa mengajar malamnya untukku dan adikku.

Bila pak Fulan lebih mengakrabkan diri kepada muridnya layaknya seorang kakak dan adik, untuk guruku yang satu ini ia memang tidak serta merta mengubah figurnya menjadi sosok kakak.

Tapi kehadirannya bahkan lebih dari itu. Tidak salah bila sesekali yang terlontar dari lisanku adalah panggilan “ibuk” bukan panggilan kebanyakan murid untuknya ” Bu Fulanah”.

Pada senja yang menggugurkan sinar mentari, dengan sedikit malu aku bertanya padanya. ” Bu, kenapa ibu selalu kamari? Kan kemarin kemarin sudah !” Tanyaku dengan raut wajah begitu polos. ” Ia melirikku sekilas, menebar senyum dan merapikan kain coklat penutup tubuhku.

“Apa ibu tidak boleh menjengukmu nak? Apa ibu salah jika ingin memastikan bahwa kau jauh lebih baik dari hari sebelumnya”.

Aku memang belum bisa berfikir lebih dalam untuk mencerna jawabannya diusiaku yang masih 10 tahun.

Tapi mulai saat itu, aku yakin bahwa semua guru begitu tulus menyayangi murid -muridnya.

Jika dihari sebelumnya, pak Fulan membopongku yang sedang terkapar dirumah sakit menuju perawat, maka bu Fulanah dengan keistiqomahannya menjenggukku disetiap bulan hendak menyapa langit.

Ia juga tidak pernah mengeluh kala aku menyodorinya tugas maupun kerajinan tangan dari sekolah. Dengan penuh cekatan, kedua tangannya yang mulai berkeriput itu menemaniku mengerjakannya.

Tak ayal, meski hujan mengguyur bumi, bisa dipastikan aku hampir tidak pernah absen menjadi muridnya sepulang sekolah. Sekalipun suaranya sedikit melengking kala mengajar, tapi tetap kuat mencipta kehangatan pembelajaran.

Caranya cukup sederhana, tidak menolak saat banyak murid meminta waktunya untuk mengajar disela kesibukannya.

Tapi ia pandai mengatur waktu. Semua murid yang datang diwajibkannya membaca buku dengan nyaring, setelah kesibukannya mulai mereda, ia temui murid-muridnya, menjelaskan mata pelajaran atau memberi rentetan soal.

Dari mereka, aku belajar. Bahwa mengajar bukanlah perkara yang instan, menyampaikan sedikit banyak ilmu rupanya butuh keringat pengorbanan, ketulusan, dan rasa.

Rasa kasih dan sayang yang merupakan muasal aroma kesedapan pembelajaran, semuanya memang Nampak tak mudah di mata kami namun seiring waktu buah- buah pengorbanana itu akan kita rasakan di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *