Ketakutan kita merupakan tanda kepekaan kita atas korban dan sekaligus juga respon kita terhadap ancaman nyata yang bisa merenggut dunia dan menghancurkan hasil-hasil terbaik peradaban dan kebudayaan kita namun ketakutan ini harus tetap kita kendalikan sehingga tidak memancing hal -hal buruk.
Saya perhatikan “epidemic of fear” ini menjebak masyarakat dalam trisula setan dimana yang pertama adalah Reaksi berlebihan yang bisa kita lihat dari prilaku -perilaku belanja yang panik, menimbun masker dan apd bahkan memakai apd di tempat yang tak semestinya.
Lebih parahnya lagi arus balik ke kampung halaman akibat takut kota tak mampu bertanggung jawab untuk soal makanan semakin besar.
Sementara Diksriminasi bisa kita lihat dalam bentuk stigma terhadap mereka yang terkena covid 19 sehingga terjadilah penolakan mayat korban covid 19 bahkan pengusiran pekerja rumah sakit yang berjuang mengobati korban covid 19
Selain itu diskriminasi ini juga melahirkan rasisme terhadap satu kaum yang di anggap menyebabkan terjadinya virus ini, menurut steven taylor dalam penamaan virus kita juga harus berhati – hati untuk tidak mengkoneksikannya dengan kaum tertentu karena akan menimbulkan dampak kekerasan yang sistematis terhadap kelompok tersebut baik secara verbal maupun non verbal.
Dan terakhir adalah irasionalitas , sebagaimana yang kita ketahui selama pandemik ini banyak sekali bermunculan informasi non ilmiah terkait virus ini mulai dari obatnya , cara penularannya, cara pencegahannya , agama dan kelas mana yang lebih rentan tertular , bahkan dari mana virus ini berasal.
Irrasionalitas ini sendiri timbul dan semakin menguat akibat narasi cocoklogi dan pola pikir konspirasionis di ranah publik kita yang semakin hari semakin membesar dan ini fasilitasi penyebarannya sosial media.
Lalu muncul sebuah pertanyaan besar , bagaimana membebaskan masyarakat dari epidemic of fear ?
Mari kita kembali kezaman yunani kuno dan belajar dari seorang tokoh besar pada masa itu namanya adalah sokrates mungkin nama ini tidak asing bagi anda semua .
Alkisah pada zaman itu sokrates disebut oleh Orakel anak dari Dewa Apollo Sebagai orang yang paling bijaksana namun bijaksana disini bukanlah seperti kondisi pada saat ini ,dimana orang yang paling banyak tahu di anggap yang paling Bijaksana bahkan saat ini bijaksananya seseorang tersebut ditentukan hanya karena dia mempunyai otoritas, banyak gelar , lulusan dari universitas terkenal , memiliki popularitas, memakai pakaian tertentu, atau memiliki public speaking dengan pola tertentu.
Kebijaksaan bagi sokrates bukan karena embel – embel luar yang saya tuliskan di paragraf sebelumnya. Menurut sokrates justru kunci dari kebijaksanaan akan nampak jika diri kita merasa tidak tahu.
Sedangkan mereka yang merasa bijaksana dengan segala embel – embelnya , pada dasarnya adalah orang-orang yang tidak sadar bahwa dirinya tidak tahu.
Sokrates berkata, “Pengetahuan yang dimiliki oleh manusia hanyalah sedikit. Dan tampak para Dewa menyebut namaku untuk menjadikan aku sebagai contoh bagi umat manusia, bahwa jika di antara kalian ada orang yang paling bijaksana, itulah dia orang yang menyadari bahwa dirinya tidak bijaksana.” Itu seperti orang yang suci, batal kesuciannya karena menyebut dirinya suci.
Orang pintar, batal kepintarannya karena merasa pintar. Karena setiap orang, jika semakin banyak belajar, maka dia semakin tahu bahwa begitu banyak yang tidak dia ketahui. Tapi orang yang sedikit belajar, seringkali merasa sudah tahu semuanya dan merasa sudah selesai.












