Menjadi bijaksana adalah sadar bahwa diri kita tidak tahu. Dan bukan sekedar perasaan tidak tahu, tetapi kita tahu di mana letak ketidak-tahuan kita dan menyadarinya dari sinilah muncul Dialektika Sokrates yang menjadi cikal bakal ilmu logika yang disusun oleh Aristoteles.
Karena itu, ilmu logika pun seperti halnya dialektika Sokrates, ia akan mengantarkan kita kepada kesadaran akan ketidak-tahuan untuk kemudian bertindak secara kreatif ,rasional ,dan humanis.
Jika kita tidak sampai pada kesadaran akan ketidak-tahuan dan sekaligus tindakan yang kreatif,humanis , dan rasional maka pertanda kita belum benar-benar menggunakan logika atau proses kita dalam mempelajari ilmu logika belumlah cukup.
Sebagaimana kita ketahui dizaman digital saat ini manusia di terjang terlalu banyak informasi yang beredar di sekitarnya dan akhirnya banyak sekali manusia merasa dirinya lebih tahu dari ahlinya sebenernya disinilah masalah yang paling besar muncul, terutama saat pandemik seperti ini.
Disitulah penting bagi kita untuk menyadari ketidaktahuan kita ditengah terjangan informasi itu dengan terus menerus membangun diskusi yang rasional sebagai awal mula meluruskan segala bentuk ketidakpahaman ,kedua mulailah membiasakan diri kita sendiri dengan proses refleksi terhadap setiap kondisi jadikan waktu luang ditengah pandemi ini sebagai waktu untuk kita menggali potensi diri kita dengan sebaik- sebaiknya, dan ketiga fokuslah pada sumber – sumber informasi yang kredibel Ketiga hal ini adalah langkah dasar untuk menjaga akal sehat kita ditengah ” epidemics of fear “.
Sementara di ranah tindakan semestinya yang akan lahir dari proses ini adalah tindakan yang kreatif , rasional , sekaligus humanis sebagaimana yang saya jelaskan sebelumnya.
Tindakan yang kreatif diranah psikologi saya contohkan salah satunya dengan membalik respon penerimaan kita terhadap kondisi pandemik dari negatif menjadi positif disini kita bisa mencontoh ajaran dari psikolog Barry Mcdonagh, yang menyarankan agar kita merespon ketakutan dengan dua kata , yang pertama dengan bertanya lalu kenapa ? Dan kedua dengan penegasan bodo amat .
Dari respon pertama kita , pikiran kita akan mengambil waktu sejenak untuk berpikir lebih rasional dan dari respon kedua memberikan kita pengharapan tanpa henti.
Ditindakan rasional secara psikologis kita bisa melakukannya dengan cara berpikir dahulu sebelum bertindak agar kita mampu untuk berpikir sebelum bertindak maka kita harus perlu melatih diri kita untuk tidak terburu – buru dan naif melalui proses refleksi baik secara spiritual seperti beribadah maupun non spiritual seperti membaca dan berdiskusi.
Dan terakhir di ranah tindakan humanis secara psikologis kita harus merubah pandangan egoistik kita ke arah pandangan alturisme yang melihat orang lain sebagai bagian dari kita yang harus kita tolong ,jaga , dan kuatkan kita bisa melatih hal ini dengan membawa diri kita ke kondisi – kondisi yang penuh dengan ketidaknyamanan sehingga akal ,hati, dan ucapan kita terlatih untuk penuh dengan kasih sayang .
- Penulis Adi mahasiswa Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Murdoch Singapura
- Penulis Kader PC IMM Malaysia-Singapura dan PCIM Malaysia-Singapura












