Refleksi Idul Adha Sebagai Bukti Tangguhnya Perempuan

News, Opini664 Dilihat

Kesetaraan gender atau gender equality masih menjadi isu yang hangat diperbincangkan. Pasalnya meski zaman sudah maju, masih ada hak-hak antara perempuan dan laki-laki yang belum setara. Tantangan dan ketimpangan gender masih ada di banyak aspek kehidupan.

Perspektif bahwa perempuan adalah subordinasi laki-laki yang menggiring oponi bahwa perempuan adalah makhluk kedua dan jenis kelamin kedua Perspektif gender yang demikian menghasilkan satu stigma bahwa perempuan tidak pantas memikul tugas-tugas tertentu karena perempuan merupakan makhluk lemah yang selalu bergantung kepada laki-laki dan menjadi makhluk kedua setelah laki-laki. Lantas, hal itu tumbuh, berkembang dan mendarah daging dalam asumsi masyarakat tentang perempuan.

Namun, kita terlalu cepat menarik kesimpulan tentang perempuan hanya dari perspektif itu saja barangkali kita lupa bahwa setiap perempuan itu tangguh dengan caranya sendiri. Bahkan perempuan adalah sumber kekuatan yang dihiasi dengan sifat lembut yang telah melekat pada sosok perempuan. Perempuan tangguh itu harus mandiri secara perasaan, mandiri secara pikiran, mandiri secara pendidikan, dan mandiri secara finansial ini adalah empat kemandirian perempuan yang selalu di publikasikan oleh aktivis perempuan. Hal tersebut tentu memiki dasar pemikiran yang dilihat daripada sejarah dan pembelajaran hari ini. Dapat dilihat dalam sejarah bahwa perempuan sangatlah berperan dan memiliki jiwa yang tangguh sesuai dengan fitrahnya.

Tangguhnya sosok perempuan tercatat dalam sejarah terjadinya Idul Adha yang mana dapat dimabil beberapa pelajaran sebagai bukti tangguhnya perempuan antara lain sebagai berikut:

Pertama, Siti Hajar sebagai perempuan menunjukkan keimanan, akal budi dan rasionalitasnya yang sangat sempurna dengan langsung memberikan Ismail sebagaimana yang diperintahkan Allah untuk dikurbankan. Dari hal ini dapat dilihat bagaimana perempuan itu tangguh dengan mengorbankan anaknya karena perintah Allah SWT.

Kedua, Bahwa Sejarah Haji sangat lekat dengan Perempuan. Bagaimana Perempuan menjadi subjek dari Tasyri’ Haji, di antaranya dalam peristiwa-peristiwa :

Romyul Jumroh yang salah satu subjeknya adalah perempuan yaitu  Sayyidah Hajar, di mana Sayyidah Hajar digoda oleh syaithan agar tidak menyerahkan anak yang telah dibesarkannya untuk dikurbankan, Sayyidah Hajar memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan dan melempar batu kepada syaitan.

Kurban yang subjeknya Nabi Ibrahim, Sayyidah Hajar dan Ismail

Sa’i yang subjeknya perempuan yaitu Sayyidah Hajar, demi menjaga kehidupan anaknya yang masih bayi, Siti Hajar berjalan dan berlari bolak balik tujuh kali mencari air untuk bayinya.

Dari hal ini menunjukkan bahwa peristiwa Haji sangat terkait dengan perempuan sebagai subjek yaitu Sayyidah Hajar.

Ketiga, Idul adha ini menjadi pelajaran tentang Tangguhnya Jihad Perempuan. Jihad adalah usaha yang maksimal, sungguh-sungguh mengerahkan segala daya dan upaya untuk menegakkan ajaran Allah (li i’laai kalimatillah). Jihad Sayyidah Hajar dalam bentuk bolak-balik di padang pasir yang tandus untuk mempertahankan kehidupan yaitu berusaha mempertahankan agar Ismail dapat tetap hidup. Mencari air untuk anaknya Ismail.

Keempat, Idul Adha ini menunjukkan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam hal ‘Ubudiyah. Simbolnya adalah ketika Ied (‘udhiyah/penyembelihan), dalam Fiqh, ‘udhiyah ini tidak membedakan laki-laki dan perempuan dalam hal jumlah hewan yang dikurbankan. Jumlah untuk laki-laki dan perempuan dihitung sama.

Kelima, Idul Adha ini menunjukkan bahwa perempuan adalah wasilah kehidupan dan keberkahan. Yang pertama, wasilah dalam peristiwa  berlari bolak balik antara mencari air, tanpa Sayyidah Hajar yang bolak-balik (sa’i), maka air zamzam ini apakah akan ada. Air zamzam muncul sebagai akibat dari jihad Sayyidah Hajar ketika beliau ingin menjaga kehidupan anaknya. Air zamzam ini sampai sekarang masih  mengalir dan memberikan berkah dan manfaat  kepada umat Islam. Yang kedua adalah wasilah dengan kurban ini, maka banyak yang menerima keberkahannya di antaranya para pengusaha dan penerima manfaat kurban.

Pelajaran besar yang bisa diambil dariIdul Adha tersebut sebagai pengingat bahwa setiap perempuna itu tangguh di antaranya: Pertama: bagaimana keyakinan positif Hajar secara totalitas kepada Allah terkait apa yang akan menimpanya esok hari. Kedua: Hajar meski dalam kondisi sendiri dengan ditinggalkan oleh suami yang berdakwah tidak merasa lemah atau putus asa malah tetap tegar dan semangat.

Pesan daripada peristiwa tangguhnya perempuan dalam peristiwa Idul Adha tersebut sangat perlu diambil oleh masyarakat modern terlebih para perempuannya. Selain memiliki integritas pribadi yang tinggi Hajar bukanlah pecundang yang meninggalkan tanggungjawabnya dan dalam peristiwa tersebut tergambarjelas bahwa antara laki-laki itu sama yang membedakannya hanyalah imannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *