Satu Tahun Gagasan; Apa Kabar Pengilmuan IMM?

Narasi1118 Dilihat

Transformasi Gerakan intelektual dan aktivisme IMM, paradigma keagamaan dan pengkajian islam, dan transformasi perkaderan intelektual menjadi poros utama dalam gagasan pengilmuan IMM. Semua itu ditujukan agar IMM dapat menjalankan peran serta fungsinya dalam menghadapi ragam masalah pada sector keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan.

Oleh karena itu secara praksis, gagasan pengilmuan IMM ditujukan untuk;

  1. Membangun paradigma ber-IMM baik dalam perkaderan dan Gerakan yang ideal.
  2. Membumikan nilai IMM sebagai ilmu objektif, dari Ideologi menjadi ilmu.
  3. Integralisasi nilai IMM
  4. Menjawab tantangan zaman

IMM di Tengah Dinamika Umat dan Bangsa

Ideologi bukan suatu yang berada di dalam ucapan, tulisan yang dihafalkan saja. Namun ia terafirmasi dalam bentuk Tindakan, menjadi niat dan landasan untuk berbuat. Nilai-nilai luhur yang kadung terkandung di dalamnya menjadi suatu tatanan moral dan menjadi cita-cita etis ibarat rel yang kemudian menuntun kereta sampai pada tujuannya.

IMM dituntut mempertahankan orisinalitas serta pijakan filososfis. Di sisi lain, IMM perlu untuk memberi inspirasi alternatif dalam menghadapi problematika masyarakat. Dewasa kini, terdapat tantangan besar bagi nilai IMM ditengah riuh dan hiruk-pikuk kondisi sosiologis masyarakat hari ini baik dari politik, ekonomi, budaya, radikalisme, dan lingkungan hidup. Mengutip dari gagasan Prof. Haedar Nashir dalam bukunya “Indonesia dan Keindonesiaan”.

Pertama, masalah politik dan dinamika politik nasional. Nilai filosfis dari politik terletak sejauh mana kebijakan dalam alokasi dan distribusi kesejahteraan masyarakat dirumuskan serta dijalankan degan bijaksana. Demokrasi di Indonesia hanya sekadar terlaksana secara procedural, dan belum mampu menunjukkan demokrasi substansial.

Kedua, masalah ekonomi. Baru saja kita dikejutkan Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi mencapai 7,07% di kuartal II 2021 (sumber CNBC) dan pemerintah telah menyatakan Indonesia telah terbebas dari resesi. Namun di sisi lain, angka ketimpangan masih curam. Data yang dirilis oleh HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) , bahwa 1% penduduk menguasai 70% asset negara. Selain daripada itu, Indonesia mengalami kemiskinan multi-dimensional; miskin modal, miskin asset, miskin inovasi, miskin kreatifitas, dan lain-lain.

Ketiga, masalah budaya. Dalam konteks kajian kebudayaan Ketika perubahan social terjadi dengan kecepatan yang tinggi, sementara itu tidak diiringi perubahan structural dan kultural, maka lahi anomaly nilai. Pandemic hari ini tidak hanya merubah tatanan ekonomi namun sampai pada budaya masyarakat pun terkena imbasnya. Arus modernisasi dan globalisasi merupakan ombak besar yang disruptif tak terbendung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *