Keseharianya dihabiskannya berjalan kaki sampai 20 kilometer menuju sawah untuk mempratikkan pengetahunya yang ia dapatkan di bangku perkuliahan.
Kemudian ia terbiasa dengan baju lusuh dan sandal jepit dikakinya,Kasim sangat peduli dengan petani setempat dan ingin membuat mereka menjadi petani mandiri.
Disuruh Pulang
Sudah 15 tahun lamanya kasim mengabdi di desa Waitimal ini, dan sudah banyak pula orang yang membujuknya untuk pulang dan menyelsaikan bangku kuliahnya.

Termasuk orang tua, teman hingga rektor IPB sekalipun Prof. Dr. Andi Hakim Nasution, ia tidak mempedulikan ajakannya.
Akhirnya ia mau pulang setelah sahabatnya Saleh Widodo, berhasil membujuknya. Kasim pun mendapat gelar Insinyur pertanian istimewa bukan kerena skripsi atau ujian kampus.
Namun ia mendapatkan gelarnya itu karena pengabdiannya yang tanpa pamrih selama 15 tahun ia lakukan.
Pada 22 September 1979 tampak ia mengenakan jas, dasi, dan sepatu yang dapatkan dari sumbangan teman-temannya.
“Syair untuk seorang petani Waitimal, Pulau Seram, Pada Hari ini pulang ke Almamaternya”
Puisi ini dihadiahkan Taufik Ismail untuk Teman kuliah Mohammad Kasin Arifin.
Kisahnya pun ditutup dengan ia pernah mengajar di Unsyiah, Aceh, dan sempat terlambat menikah serta dikaruniai 3 orang anak. Dia Juga menerima penghargaan Kalpataru.
Pahlawan pertanian dan dia juga lah “Maha”-nya Mahasiswa ini telah lama meninggal, namuk kisah hidupnya tetap dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi generasi sekarang.











