Keheranan Hamka itu terjawab ketika Hamka di ajak oleh pamannya bertemu dengan pengajar-pengajar yang kelak menjadi gurunya juga.
Hamka di ajak bertemu H.O.S Tjokrominoto untuk berguru “sosialisme Islam”, kepada Haji Fakhrudin tentang agama Islam dan kepada R.M Surya pronoto belajar sosiologi.
Setelah selesai belajar dengan gurunya Hamka bertandang ke pekalongan untuk menemui kakak dan ipar yang selanjutnya akan belajar pada iparnya A.R Sutan Mansur.
Akhir tahun 1925 Hamka kembali ketanah kelahirannya.
Dengan semangat revolusioner setelah mendapatkan pelajaran dari tokoh-tokoh yang ia temui di Jawa Hamka mulai aktif berpidato dan mulai mengadakan kursus pidato bersama teman-temannya.
Belum genap setahun aktivitas yang dijalani Hamka itu berjalan Hamka merasa tidak ada respon positif dari masyarakat sekelilingnya.
Bahkan ayahnya sendiri mencap ia seperti beo hanya bisa berpidato dan menghafal syair saja.
Dikatakan seperti itu pantang surut gejolak mudanya, bahkan tekadnya semakin kuat bahwa ia akan membuktikan ia tidak seperti yang dikataka.
Ttitik puncaknya Hamka ingin merantau kembali namun tidak ke Jawa melainkan ke Mekah untuk memperdalam agama disana.
Usia 19 tahun hamka membulatkan tekad merantau ke mekah setelah ia diremehkan dan di anggap hanya pandai pidato saja.
Di dalam bukunya Kenang-kenangan hidup Hamka menjalaskan bahwa ia “lekas jatuh hati kepada gadis-gadis”.
Perjalanan Kemekah dan Kisah cinta
Dalam perjalanan menuju Mekah Hamka terpesona dengan janda muda yang berasal dari tatar Sunda. Janda itu bernama Kulsum.
Umurnya 17 tahun, dua tahun lebih muda daripada Hamka. Kulsum juga hendak berhaji bersama kedua orangtuanya.
Meski sering bersua tak jarang keduanya saling membisu.
Namun maklum saja hal itu terjadi karena Kulsum tidak mengerti banyak bahasa melayu begitu juga dengan Hamka tidak paham bahasa Sunda.
Dikapal yang membawa Hamka berlayar ke Mekah, beberapa penumpang mengenalnya sebagai pemuda yang indah bacaan Qurannya.
Hamka tidak memugkiri bahwa ia telah jatuh hati kepada kulsum, kala membaca Quran ia memperpanjang-panjang bacaannya dan belum berhenti hingga Kulsum naik ke dek kapal untuk menyimak lantunannya.
Jatuh hatinya Hamka pada Kulsum melupakan pujaan hati di Padang Panjang.
Dua hari sebelum kapal berlabuh di pelabuhan jeddah Hamka melihat Kulsum berdiri merenung lautan melihat lumba-lumba mengiringi kapal, dalam pertemuan keduanya itu tak ada sepatah kata yang terlontar namun penglihatan yang sayu dari kedua pihak seakan telah menerjemahkan isi hati masing-masing.
Pada pertemuan itu Hamka memberikan sapu tangan kepada Kulsum sebagai kenang-kenangan dan berkata semoga di Mekah kita bertemu kembali, sapu tangan pemberian Hamka di terima oleh Kulsum seraya mengucapkan terimakasih dalam bahasa Sunda.
Keesokan hari pada jam dan tempat yang sama kedua insan itu bertemua tanpa ada perjanjian terlebih dahulu.
Keduanya tersenyum dengan pertemuan itu seraya kulsum mengeluarkan sapu tangan putih berpinggir biru yang di berikan kepada Hamka sebagai hadiah.
Sapu tangan itu menebarkan wangi semerbak. Hamka mengambil sapu tangan itu dengan bahagia seraya mengucap terima kasih pada Kulsum.
Namun kisah cinta dengan pujaan dari Padang Panjang dan Kulsum hanya bumbu hidup di masa muda. Kisah cinta Hamka berakhir dengan pinangan pada gadis minang yang terpaut jarak enam tahun dengannya.
Siti Raham namanya seorang istri solehah dan setia yang nikahi Hamka Ketika Siti Raham masih berumur 15 tahun.









