Teori Ekonomi dan Sosiologi Ibnu Khaldun Oleh Muhammad Amin Azis

Opini895 Dilihat
  1. Kajian Sosiologi
    B. Membagi masyarakat menjadi tiga kelompok
    Pertama. Masyarakat primitif, Kelompok masyarakat ini digambarkan sebagai masyarakat yang belum mengenal peradaban dan hidup secara liar. Kedua. Masyarakat desa, Kelompok masyarakat ini sudah hidup menetap walaupun masih sederhana, Ibnu Khaldun menggambarkan masyarakat ini bekerja sebagai petani dan penggembala. Ketiga. Masyarakat kota, Kelompok masyarakat ini sudah mengenal peradaban, masyarakat ini bekerja pada sektor perdagangan dan perindustrian.
    Masyarakat ini tidak hanya dapat memenuhi kebuhan pokoknya melainkan kebutuhan sekunder dan mewah.
    B. Kondisi geografis berpengaruh dengan moral manusia: masyarakat yang berasal dari wilayah yang berudara panas dan berasal dari teluk, biasanya meraka kurang berhati-hati dan suka bergembira. Masyarakat yang wilayahnya kering biasanya lebih sering merasakan kesedihan
    C. Ashabiyah: Konsep ashabiyah ini menjadi konsep pembentukan negara, kekayaan dan keruntuhan. Secara harfiah ashaba berarti mengikat dan dalam artian luas ashabiyah digunakan untuk mengukur kekuatan suatu kelompok sosial, selain itu juga dapat diartikan sebagai solidaritas sosial. Konsep ini pada dasarnya berangkat dari kelompok masyarakat nomaden namun dapat juga digunakan kelompok masyarakat menetap, kelompok masyarakat yang memiliki cara pandang lebih maju dan beradab.

    Dari pembahasan diatas jelas bahwa faktor sosial, politik dan ekonomi, meski berbeda dalam kesepaduan negara atau keutuhan negara teori-teori ini saling berhubungan. Jauh sebelum sosiolog-sosiolog barat dan ekonom-ekonom barat seperti Max Weber, Karl Marx,Herbert Spencer, emil Durkheim dan adam Smith mengemukakan teori-teori mereka, Ibnu Khaldun sudah terlebih dahulu mengemukakan teori sosiologi dan ekonominya. Pemikiran-pemikiran yang dituangkan Ibnu Khaldun dalam kitab muqaddimah berpengaruh besar terhadap ilmuan-ilmuan barat maupun peradaban saat ini. Dalam kajian sosiologi, teori-teori yang diungkapkan oleh sosiolog Barat mempunyai kesamaan dengan teori ibnu Khaldun yaitu.
    1. Teori Evolusi sosial herbert spencer : Dalam teori Evolusi sosial atau dikenal juga dengan Darwinisme sosial herbert Spencer mempunyai kesamaan dengan teori Pembagian masyarakat Ibnu Khaldun yang mana inti dari kedua teori ini adalah perubahan masyarakat dari masyarakat yang sederhana menjadi masyarakat modern.
    2. Teori Dialektika hegel dan teori perjuangan Karl Marx, Kedua teori filsuf barat ini juga mempunyai kemiripan dengan teori dialektika sejarah Ibnu Khaldun, dalam teori ini Ibnu Khaldun memebahas sebuah bangsa mengalami metamorfosis selama tiga kali.

Sampai saat ini Kitab muqaddimah masih dibahas bahkan menjadi rujukan baik oleh intelektual timur maupun intelektual barat karena teori-teori yang dituangkan Ibnu Khaldun didalam kitab muqaddimah masih sangat relevan dengan konteks saat ini. Kitab ini tidak hanya masyhur dikalangan intelektual muslim namun intelektual barat juga merasakannya. Salah satu tokoh dari Barat yang merakasakan kemasyhuran kitab ini adalah: Mark Zuckerberg, pendiri Facebook menjadikan dan merekomendasikan kitab ini sebagai bacaan wajib.

Nama Ibnu Khaldun masyhur di dunia barat dan Timur (Islam) dikarenakan kemasyhuran dari kitab muqaddimah yang kerap dijadikan sebagai rujukan oleh intelektual-intelektual barat, hal ini membuktikan bahwa dunia Islam mempunyai kekayaan Intelektual. untuk melanjutkan estafet intelektual dan kekayaan ilmu pengetahuan Islam , teori-teori yang sudah dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dan Intelektual Islam klasik lainnya harus dikembangkan oleh intelektual-intelektual muslim dan menjadikannya sebagai paradigma.


Yang pada akhirnya tidak hanya barat yang menjadi sentris dari ilmu pengetahuan namun timur juga dapat menjadi sentris ilmu pengetahuan modern dan bangkit dari keterpurukan.

Untuk tetap menjaga semangat para intelektual muslim dalam mengkaji buah karya Intelektual Muslim dan menjadikannya sebagai paradigma. Maka, mengkaji buah karya inteketual dan menjadikannya rujukan wajib di institusi pendidikan yang berbasis Islam, tujuannya untuk tetap menjaga dan melestarikan teori-teori keilmuan yang telah di kemukakan oleh intelektual muslim terdahulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *