Cerpen || Maryam Karya Wanda Khairun Nasirin, S.E

Warta1451 Dilihat
Apalagi jika orang-orang  mengatai diriku pasti ia pergi lari ke kamar mandi nangis sejadi-jadinya.

Sebagai orang tua tunggal, ibu tidak mau melihat anaknya yang cacat bersedih dan meneteskan air mata, biarlah ia yang menyimpan kesedihan tersebut.

Sebenarnya aku tidak memperdulikan apapun yang menimpa diriku dalam rangka perjuangan hidup. Dan aku tidak akan gentar menghadapi orang-orang yang suka meneror maupun orang-orang yang suka melecehkan. Karena aku adalah Maryam.

Aku diberi nama Maryam, karena ibu ingin menjadikan diriku sekuat ibu nabi Isa as. aku yakin jika seseorang berserah diri kepada Allah swt maka akan mendapatkan keamanan, dan rasa takut kepada makhluk akan hilang dari hatinya, karena ia telah meletakkan jiwanya didalam brankas yang kuat dan menyembunyikannya dalam sudut yang kokoh, sehingga tidak bisa dijamah oleh tangan-tangan musuh yang jahil dan usil.

Ia tidak akan menggantungkan hatinya kepada makhluk manapun dalam upaya mendatangkan keuntungan dan menolak bahaya.

Aku diberi piala dan sejumlah uang pembinaan oleh wanita tua renta itu. Aku tidak tahu bahwa aku adalah pemenang dari kompetisi bernyanyi di kabupaten, yang ku tahu bahwa aku hanya di suruh tampil di hadapan orang banyak.

Tak lupa aku sujud syukur untuk mengucapkan terima kasih dan rasa syukurku kepada Allah swt. Alhamdulillah, secara aku bernyanyi tanpa bisa mendengarkan musik, hanya menghandalkan insting tempo lagu tersebut.

Karena tiga tahun sudah aku tidak bisa mendengar lagi. Aku tidak memiliki biaya untuk membeli alat pendengaran baru. Untuk mengisi perut saja, aku dan ibu sudah sangat bersyukur.

Aku dipersilahkan untuk bernyanyi sebelum aku dan ibu pulang ke kampung. Aku mempersembahkan lagu ‘Sampai Menutup Mata’ kepada orang-orang yang ada di ruangan.

Embun di pagi buta, menebarkan bau mesra, detik demi detik ku hitung, inikah saat ku pergi.
Oh Tuhan ku cinta dia, berikanlah aku hidup, takkan ku sakiti dia, hukum aku bila terjadi.
Aku tak mudah untuk mencintai, aku tak mudah mengaku ku cinta, aku tak mudah  mengatakan aku jatuh cinta, senandung ku hanya untuk cinta, tirakatku hanya untuk engkau, tiada dusta, sumpah ku cinta, sampai ku menutup mata.

Aku menuaikan lagu tersebut membuat orang-orang meneteskan air mata mereka. Lirik lagu sederhana tersebut sangat menyentuh.

Ibu sangat  menyukai lagu tersebut dikala aku mesenandungkannya, ibu selalu menatapku dengan senyuman.

Walaupun aku tidak dapat mendengar suaraku, tapi aku menyanyikannya dibantu dengan isyarat tanganku.

Aku mesenandungkan lagu itu ketika ibu pulang bekerja. Supaya rasa letih dan penat yang ibu rasakan hilang sekejap.

Aku turun dari panggung, aku berlari ke toilet untuk memanggil ibu.

“ibu.. ibu.. Maryam tahu ibu di dalam sana.. ibu..”, teriakku di depan toilet,

 Ibu keluar dari kamar mandi, ibu berikan isyarat kepadaku bahwa ibu tadi merasakan perutnya sangat sakit. Ibu meminta maaf kepadaku dan mengajakku pulang ke kampung.

Tetapi, sebelum pulang ke kampung ibu mengajakku pergi ke rumah sakit untuk beli alat pendengaran yang baru. Aku menolak keinginan ibu, karena aku ingin membelikan baju yang baru untuk ibu dan membuat usaha kecil-kecilan di depan rumah.

Supaya ibu tidak pergi panas-panasan mengais rezeki di tanah orang. Ibu menolaknya karena ibu berpendapat bahwa kesehatanku adalah yang nomor satu.

Pasien-pasien di rumah sakit antri untuk menunggu giliran check-up. Kebetulan nomor antrianku 136.

Hari yang mulai gelap, ibu memutuskan untuk kami menginap di rumah sakit. Setelah aku dan ibu selesai menunaikan solat isya, ternyata nomor yang selanjutnya adalah nomorku.

Aku sudah tidak sabar menunggu giliran. Aku melihat jam terus-menerus. Tepat pukul 21:00 wib, aku dan ibu di suruh masuk oleh suster ke ruangan dokter. Ibu menjelaskan riwayat pengobatan yang telah ku lalui. Karena sudah tiga tahun tidak pernah memeriksakan telinga ke dokter.

Dokter memberi antisipasi pada ibu, dokter mengatakan bahwa selaput tiga saluran seperti keong tersebut bernanah didalam telinga kananku. Dan telinga kiriku juga sama, tetapi tidak separah pada telinga kananku.

Aku tidak bisa memakai alat pendengar lagi karena kondisi telinga yang sangat parah. Aku tidak mengatakan kepada ibu kalau kadang telingaku terasa perih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *