Ibu menangis dihadapan dokter
Ibu meminta cara yang terbaik untuk kesembuhanku pada dokter.
Dokter menyatakan bahwa secara medis aku harus di operasi, saluran keong tersebut harus diangkat dan aku harus segera dioperasi.
Ibu setuju dengan apa yang dikatakan dokter, aku memberi isyarat kepada ibu, apakah uang yang kami miliki itu cukup.
Alhamdulillah, uang hadiah yang diberikan wanita tua tadi cukup untuk dilakukan operasi, malahan lebih. Supaya dapat mendengar kembali, dokter menyarankan agar ada yang mengimplan dua saluran telinga.
Ibu sangat terkejut mendengar pernyataan tersebut. Tanpa pikir panjang ibu langsung menyatakan bahwa dirinya pendonor saluran tersebut.
Ibu jelaskan kepadaku maksud dari dokter, dan aku sangat, sangat tidak setuju. Aku tidak mau salah satu telinga ibuku tidak bisa mendengar sepertiku.
Aku menangis dan mengisyaratkan kepada ibu, “lebih baik aku tidak bisa mendengar sama sekali daripada ibu tidak bisa mendengar sepertiku”
Ibu menenangkanku dengan senyumannya dengan mengisyratkan, “tidak apa-apa nak.
Ibu ikhlas kok. Kan satu lagi bisa mendengar ?
Jadi, ibu dan kamu bisa mendengar walaupun dengan satu telinga”. Ibu juga berpesan kepadaku, “apabila seseorang menyadari bahwa apa yang ditakdirkan mengenainya tidaklah akan meleset darinya, dan apa yang meleset ditakdirkan darinya tidaklah akan mengenainya, maka jiwanya akan tenang, hatinya akan tentram dan berserah diri kepada Allah swt dalam segala hal”.
Lagi-lagi aku tidak dapat menolak permintaan ibu. Dokter mengatakan operasi dilakukan pada pukul 04:00 wib esok hari, karena masih banyak pasien yang harus melakukan check-up di malam ini.
Dokter menyarankan kami untuk istirahat yang cukup. Aku mengisyaratkan kepada ibu bahwa aku tadi melihat mesjid yang tak jauh dari rumah sakit sedang direnovasi, aku memberi usulan agar uang lebih yang kami miliki di infakkan ke mesjid dan menyisakannya untuk ongkos pulang ke kampung.
Di masjid aku dan ibu menenangkan hati dan mengistirahatkan badan untuk malam ini.












