Hanya Pemuda

Warta1768 Dilihat

“Jangan-jangan ini hanya modusmu kan Musdar, sebab selama ini tak ada satu orang gadis pun yang ingin mendekatimu, nah …! mungkin ini caranya agar kau dapat memikat gadis di kampung ini, ya kan?” tandas Pak Zamran memvonis Musdar.

“Astaghfirullah Pak! Aku …” Belum sempat Musdar menyelesaikan kalimatnya langsung Pak Zamran memotong perkataan Musdar dan berucap.

“Kau munafik Musdar! sama seperti ayah mu, seorang penipu!” maki Zamran pada Musdar.

Hati Musdar begitu tergores dengan ucapan Pak Zamran. Ia hanya tertunduk. Begitu sakitnya perasaan Musdar mendengar semua penghinaan ini, Namun musdar paham akan kebencian pak Zamran itu padanya.

Musdar sadar bahwa dendam pak Zamran terhadap ayah Musdar belum hilang sampai kini. Hal itu akibat pertikaian jual beli sebidang tanah yang terjadi antara Pak Zamran dan ayahnya beberapa puluh tahun yang lalu.

Walaupun kini Ayah musdar sudah tiada lagi, tapi dendam Pak Zamran masih membara dan selama ini Pak Zamran memang selalu menghambat apapun yang ingin dilakukan Musdar untuk membangun kampung ini.

Sementara di sudut shaff perempuan tampak Darpinah, ibu Musdar itu meneteskan air mata. Wanita tua itu hanya tunduk ,terdiam dan tak bicara. Di kelopak mata Darpinah tergenang air yang tercurah dari luka harinya. Satu persatu air mata Darpinah terkucur saat menyaksikan anaknya dicaci maki dan dihina.

Sedangkan Purnama yang turut hadir di tempat itu ikut tercengang melihat keteguhan hati seorang pemuda biasa yang tak ia kenal itu.

Tentu sebagai seorang sarjana yang berfikir logis Purnama tahu bahwa sesungguhnya niat pemuda ini begitu mulia, tapi ia tak mengerti mengapa ada orang yang menghalangi niat baik pemuda itu.

Di sela ucapan Pak Zamran yang makin tak karuan, Pemandu musyawarah meminta pendapat dari Pak Lurah Rustam untuk menenangkan situasi dan Pak Rustam pun angkat bicara.

“Sebagai Lurah, saya tetap mendukung apapun itu selama tujuannya adalah baik, saya juga tidak bisa memutuskan tentang hal ini. namun jika saya boleh usul, bagaimana bila perwiritan remaja ini dilakukan dari rumah ke rumah, karena masalahnya dari yang saya dengar tadi, Pak Zamran tidak setuju bila perwiritan ini dilakukan di mesjid.” Rustam mencoba memberi saran.

“Musdar! apa pendapatmu tentang saran Pak Lurah itu?” tanya Ustadz Ali pada Musdar.

“Sebelumnya saya mohon maaf pak Lurah! Perwiritan remaja mesjid hendaknya kegiatan yang berbasis mesjid, andai perwiritan ini dilakukan dari rumah ke rumah tentunya nanti akan ada hidangan, makanan dan minuman sedangkan ekonomi kita tidaklah semua sama, artinya bagi yang tidak mampu hal ini bisa menjadi beban dan juga saya khawatir akan timbul fitnah bila masakan dan hidangan tidak sesuai dengan lidah dan selera,” ujar Musdar menjelaskan alasannya.

“Masuk akal juga alasan pemuda ini.” Benak Rustam berguman sambil tertegun dan menatap musdar.

Pun begitu juga Purnama. Gadis molek ini mulai menaruh kagum atas perilaku pemuda sederhana yang ia saksikan itu.

Akhirnya musyawarah pun selesai tanpa ada keputusan apa-apa sebab malam semakin larut. Musyawarah untuk sementara ditunda dan nanti pembahasan akan dilanjutkan di kantor urusan agama untuk mendapatkan ijin kegiatan.

Para warga mulai beranjak pulang. Begitu juga halnya dengan keluarga Rustam, namun Purnama masih tinggal di situ untuk sekedar bertutur sapa dengan remaja putri yang masih ada di mesjid itu.

Saat hendak pulang Purnama baru sadar bahwa sandalnya sudah tidak ada di emperan mesjid. Sandal itu hilang entah ke mana. Pastinya Purnama merasa kebingungan sekali.

Musdar melihat gadis itu sepertinya sedang mencari sesuatu. Lalu Musdar datang menghampirinya, kemudian Purnama mengatakan bahwa ia kehilangan sandalnya, langsung saja Musdar melepaskan sepasang sandalnya dan memberikan sandal jepit itu pada Purnama dengan senyumnya seraya berkata.

“Pakai ini dulu, nanti kau terlambat pulang.”

“Lalu kau bagaimana?” tanya Purnama pada Musdar.

“Tak apa-apa, rumahku dekat sini,” ujar Musdar meyakinkan.

Kemudian Musdar pamit tanpa perlu lagi bertanya siapa nama gadis yang ia tolong ini dan setelah itu Musdar masuk ke mesjid lalu ia keluar dengan menggendong ibunya. Musdar melakukan ini sebab rematik pada sepasang kaki Darpinah kambuh lagi baru-baru ini.

Sementara Purnama melihat pemuda itu menggendong ibunya yang tua untuk pulang berjalan tanpa alas kaki.

Malam ini suasana kampung begitu sunyi hanya sungutan jangkrik yang terdengar bagai sebuah irama yang terabaikan oleh telinga sedangkan di sebuah kamar tidur Purnama mencoba memejamkan mata, namun senyum dan keteguhan hati pemuda tadi seakan kerap menggangu pikirannya hingga Purnama tak bisa tidur lelap.

Belum lagi tentang apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa pemuda itu begitu berbakti kepada orangtuanya.

“Ada apa ini?” tanya Purnama dalam hati

“Mengapa aku terus memikirkan dirinya?” Pertanyaan ini seperti berbisik di benak Purnama.

Malam ini Purnama tak bisa tidur nyenyak. Wajah pemuda yang tersenyum itu tak bisa ia hapus dalam pikirannya. Sebentar-sebentar Purnama bangkit dan duduk termenung kemudian ia berbaring lagi. Begitu terus menerus sampai akhirnya ia tidur juga dan hingga purnama tak sadar bahwa hari sudah terlalu siang bahkan mataharilah yang membangunkan Purnama dengan sinarnya yang menyelinap melalui rongga jendela.

Hari ini Purnama kedatangan tamu, yaitu seorang gadis seusianya yang ia kenal tadi malam, namanya Lena.

Mereka berbincang dan bercengkrama di depan teras rumah Purnama. Walaupun baru kenal tapi nampak terlihat akrab.

Purnama mencoba bertanya tentang Musdar pada Lena, Sebab Purnama ingin mengembalikan Sandal yang ia pinjam dari Musdar seusai pulang dari mesjid tadi malam.

Lena mengatakan bahwa Musdar itu adalah seorang pengajar honor di madrasah ibtidaiyah. Pemuda itu memang miskin tapi kaya batinnya. Saat-saat Musdar gajian Musdar kerap membelikan sepatu dan baju seragam untuk murid-muridnya yang kurang mampu.

“Kau tahu Purnama! Musdar itu adalah pemuda yang berbakti kepada ibunya. berbagai cara ia lakukan untuk membahagiakan ibunya,” tutur Lena menerangkan sosok Musdar.

“Musdar itu adalah pemuda dengan sejuta mimpi,” tambah Lena lagi.

Mendengar itu Purnama ingin sekali bertemu Musdar dan sekaligus ingin mengembalikan Sandal yang ia pinjam waktu itu.

Lena bersedia menemani Purnama untuk bertemu Musdar di tempat Musdar mengajar saat ini dan mereka pun berangkat ke sana.

Purnama tetap bergaya ala gadis kota. Rambut panjangnya yang tak terurai, celana jeans-nya yang sobek-sobek dan bajunya dengan kaos yang tak berlengan.

Tak lama sampailah Purnama dan Lena ke tempat yang mereka tuju yakni Madrasah Ibtidaiyah dimana Musdar mengajar. Purnama dan Lena menunggu Musdar yang belum jua datang.

Tak berapa lama Musdar terlihat tiba, seperti biasa Musdar tampak penuh semangat dengan menunggangi sepeda ontel yang selalu mengantarnya setiap hari.

Hati Purnama lagi-lagi tersentuh melihat pemuda ini mengayuh sepeda tanpa alas kaki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *