Sampai suatu ketika Rustam di pindah tugaskan ke Ibukota Kabupaten, maka keluargapun ikut pindah ke sana. Namun bagi Purnama hal ini sangatlah berat sebab mereka pastinya akan berpisah dengan Musdar.
Purnama ingin sekali bertemu Musdar tapi nampaknya semua itu sudah tak mungkin lagi, maka oleh sebab itu Purnama mengirim surat pada Musdar dan diantara melalui tangan Lena yang juga sahabatnya Purnama.
Musdar membuka surat yang Purnama layangkan itu.
[“Musdar! Hari ini mungkin aku akan pergi kebtempat tugas ayahku yang baru, namun aku tak ingin berhenti mengingatmu, sebab dirimu telah banyak mengajarkan aku arti kesabaran dan ketabahan hidup, darimu aku tahu bagaimana cara menghormati orangtua.
[“Musdar! maafkan aku yang tak bisa membela cinta kita, ayah tak sudi padamu, ia lebih memilih seseorang yang ia anggap lebih pantas untukku, untuk masa depanku, jadi seperti yang pernah kau katakan padaku bahwa seharusnya cinta bukanlah bunga berduri yang akan bisa menyakiti orang-orang yang ingin memetiknya.
Seharusnya cinta tak membuat seorang anak jadi durhaka pada orangtunya, bukankan begitu Mus!
[“Maafkan aku Mus! bila cinta kita berpisah seperti ini, andai Allah mengijinkan kita berjodoh, insyaallah kita pasti bertemu lagi.
[“Selamat tinggal buat pemuda biasa yang selalu ku kagumi.
[“Purnama.
Sesaat selembar kertas itu basah, rupanya beberapa butir air bening telah keluar dari kelopak mata Musdar saat ia membaca surat purnama itu.
Begitu cepat waktu berlalu, sudah tujuh bulan Musdar dan Purnama berpisah. Musdar masih berada di kelurahan kecil itu dan perannya masih mengajar honor pada bocah-bocah yang tak punya tempat belajar itu.
Di sisi lain Polisi yang telah lama menyelidiki kasus pembakaran sekolah Madrasah milik Musdar dan akhirnya dapat menangkap pelaku hingga Zamran pun ikut terseret ke penjara dan ditambah lagi adanya bukti-bukti kejahatan Zamran yang membuat Zamran di hukum dalam waktu yang cukup lama.
Zamran menyesal karena dendam tak akan pernah berubah hasil yang baik. Zamran mendekam untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Usaha Zamran ikut bangkut hingga anak dan istri Zamran pindah ke kota lain karena tak tahan menanggung malu.
Suatu saat, Musdar berkeinginan mengajukan masalahnya untuk mendirikan remaja mesjid di kampungnya, hal ini membuat Musdar harus berangkat ke Ibukota Kabupaten.
Ternyata dunia memang selebar daun kelor. Saat Musdar di Ibukota Kabupaten, tanpa sengaja Musdar Musdar bertemu Purnama. pertemuan itu membuat keduanya terkejut. Akhirnya mereka berbincang-bincang di sebuah warung yang tak jauh dari tempat mereka berjumpa.
Mereka berdua saling bercerita dan tentunya saling melepas rindu. Purnama yang masih Istiqomah dengan hijabnya menceritakan bahwa dirinya sudah bertunangan dengan anak sahabat ayahnya namanya Ruslan dan Ruslan adalah seorang Dokter.
Purnama mengatakan bahwa bulan depan dirinya dan Ruslan akan menikah. Musdar terkejut mendengar itu.
Hal ini sesuai dengan permintaan ayahnya yang kini menderita penyakit gagal ginjal akut hingga sang ayah keluar masuk rumah sakit. Ayah sudah lama ingin dioperasi namun belum ada pendonor ginjal untuk ayahnya.
Purnama nampak terburu-buru. Ia hendak pergi ke rumah sakit. ia ingin menjenguk ayahnya yang sejak kemarin kesehatannya semakin memburuk dan sang ayah kerap mengerang kesakitan karena penyakit yang diidapnya. Lalu keduanya pun berpisah.
Keesokan harinya, Dokter Ruslan menyampaikan kabar gembira bahwa telah ditemukan pendonor yang secara sukarela dan setelah diperiksa maka ginjal itu cocok buat Rustam, ayahnya Purnama, maka dilakukan operasi secepatnya.
Operasi semula berjalan tegang selama beberapa jam. Raut gundah dan gelisah terlukis di wajah purnama dan ibunya namun pada akhirnya tranplantasi ginjal itu telah berjalan lancar.
Sipendonor ruangannya di pindahkan ke ruang instalasi gawat darurat sebab detak jantungnya tampak tak stabil setelah operasi itu.
Sementara Rustam merasa cukup baikan seusai operasi meskipun tubuhnya masih lemah hingga untuk sementara Rustam hanya duduk di kursi roda saja.
Keesokan harinya terdengar kabar di rumah sakit itu bahwa Sipendonor ginjal untuk Rustam itu telah meninggal dunia. Mayatnya terbaring kaku dan akan di pindahkan ke ruang jenazah. Mayat itu tertutup kain putih.
Dokter Ruslan menyampaikan kabar itu pada Rustam dan keluarganya. Kemudian Rustam dengan kursi roda yang didorong oleh istrinya serta bersama Purnama ingin sekali melihat jenazah orang yang telah mendonorkan ginjalnya itu buat kesembuhan Rustam.
Saat jenazah melintas untuk dipindahkan Purnama menahan suster yang membawanya.
Purnama mencoba membuka penutup wajah jenazah yang terbaring itu dan setelah Purnama membuka kain penutup itu, maka Purnama menangis histeris sambil meraung karena wajah itu sangat ia kenal, kenal sekali karena itu adalah Musdar sang pemuda biasa yang selama ini Purnama kagumi.
“Musdar …! Bu, ini Musdar!” ucap Purnama berkali-kali pada ibunya dengan terjejutnya.
Sang ibu bergegas untuk melihat dan ternyata benar itu adalah Musdar yang mereka kenal
“Purnama! jadi Musdar yang kau ceritakan padaku itu, inilah orangnya?” Dokter Ruslan bertanya penasaran karena Purnama pernah bercerita tentang Musdar padanya.
Purnama hanya mengangguk dengan air mata yang bercucuran.
“Pemuda ini berkata bahwa dia ikhlas mendonorkan ginjalnya buat Pak Rustam yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri,” ucap Dokter Ruslan.
“Sebelum dioperasi pemuda ini sholat dua rakaat dan ketika saya bertanya mengapa ia mau melakukan ini semua, ia menjawab bahwa ia sangat rindu pada ibunya,” tambah Dokter Ruslan lagi menjelaskan.
Sementara Istri Rustam berkata.
“Pak! orang yang mengorbankan hidupnya untukmu adalah pemuda yang dulu selalu kau hina dan caci maki, sekarang ia telah buktikan bahwa dirinya tak serendah apa yang kau kira.”
Sementara Rustam hanya diam dan tak berkutik, batinnya menangis dengan seribu penyesalan ketika Rustam mengingat betapa buruknya perlakuannya pada Rustam sewaktu dulu.
Tak lama, mayat Musdar segera dibawa ke kampung halamannya, ia si makamkan dekat sisa sekolah madrasahnya yang pernah ludes terbakar.
Orang-orang juga ikut bersedih akan nasib Musdar itu, begitu pula murid-muridnya yang sangat merasa kehilangan.
Dua hari kemudian setelah itu terbitlah surat izin dari kantor urusan agama bahwa pemuda-pemudi di situ diperbolehkan mendirikan perwiritan remaja mesjid dan melaksanakan kegiatan berbasis mesjid seperti apa yang dicita-citakan oleh Almarhum Musdar selama ini. Para pemuda begitu senang mengetahui ini.
Minggu ini Purnama dan Dokter Ruslan pun telah resmi menikah. Dokter Ruslan tak masalah jika Purnama selalu mengenang Musdar dan bahkan purnama dan dokter Ruslan membangun sekolah madrasah di atas tanah yang Musdar tinggalkan untuk anak-anak di kampung itu agar punya tempat belajar dan sekolah madrasah semua ini di kelola oleh Pemerintahan kelurahan.
Memang Musdar sang pemuda biasa itu telah tiada untuk selama lamanya, namun bagi keluarga Purnama Musdar selalu hidup di sanubari mereka, apalagi Purnama ingatan bersama Musdar tak akan pernah lekang dari memori masa lalunya.
- Ditulis oleh: Zaidan Akbar






