Hanya Pemuda

Warta1769 Dilihat

Kantung mata Musdar memerah karena dari tadi air matanya mengucur tiada henti. Dada Darpinah bergelombang akibat napasnya yang turun naik tak beraturan hingga pada ujung napas itu terdengar kalimat syahadat dari lidah yang mulai kelu dan suara yang tak jelas lagi didengar. Itu artinya ajal sudah menjemput Darpinah untuk pergi selamanya.

Baju Musdar basah bermandi keringat. Musdar mendekap dan memeluk ibunya dengan erat. Tangisan Musdar terdengar pilu. Meski suara tangisan Musdar telah berhenti tapi tidak dengan air matanya yang terus mengalir menganak sungai.

Kini Musdar telah kehilangan orang yang paling ia cintai yaitu ibunya, Sosok yang sangat ia sayangi di dunia ini.

Setelah orang-orang pulang dari pemakaman, Musdar masih saja menggenangkan air matanya di depan pusara sang ibu. Tangan kanannya memegang nisan ibunya dengan wajah yang tertunduk, Musdar diam tapi tangisnya tersedu, butir-butir air matanya jatuh satu-persatu.

Purnama menyaksikan kepedihan hati dari seorang pemuda yang selama ini ia kagumi. Purnama mencoba menghampiri Musdar dan mencoba untuk menguatkan.

“Ikhlaskan kepergian ibumu Musdar! ia sudah berada di tempat terbaik, biarkan ia tenang di sisi Allah.”

Musdar menoleh Purnama dan berkata.

“Di dunia ini hanya ibu yang ku punya, aku tak pernah berpisah dari ibu, tapi kini ibu meninggalkan ku sebatang kara,” ujar Musdar.

“Berdoalah selalu untuknya, insyaallah Tuhan akan mendengar doa-doa mu,” kata Purnama

Kaki sang waktu terus melangkah, hari demi hari kian berganti meski kenangan atas kepergian ibunya menyisakan kesedihan di dalam hati Musdar namun Musdar terus berusaha untuk bangkit dari kesedihan yang ada.

Hari-hari berikutnya Musdar dan Purnama terlihat bertambah dekat dan akrab. Kini Purnama menjadi sosok gadis yang taat ibadahnya, penampilannya sopan dan kata-katanya begitu lembut. Musdar memang membawa pengaruh yang baik bagi purnama dengan memperkenalkan Islam lebih dalam lagi pada Purnama.

Sementara Rustam sang ayah tak menyangka akan perubahan perangai anak perempuannya itu. ia senang sekali melihat Purnama yang kini tak pernah lagi meninggalkan sholatnya dan juga tak ada lagi perdebatan seperti biasanya. Purnama sekarang menjadi gadis yang penurut pada orang tua. Rustam sadar betul bahwa putri sulungnya itu saat ini telah berubah jauh lebih baik.

Zamran tak pernah berhati senang melihat Musdar. Dendam Zamran terus berkobar hingga Musdar selalu jadi sasaran sifat tercelanya itu.

Pada suatu ketika di waktu malam, Zamran menyuruh orang-orang bayaran untuk membakar sekolah madrasah dimana Musdar mengajar.

Musdar terkejut setelah seseorang memberitahunya akan hal itu. Namun apa hendak dikata ternyata si jago merah sudah terlanjur besar dan dengan rakusnya melahap bangunan sederhana yang terbuat dari kayu itu.

Duka Musdar bertambah dalam saat ia menatap sisa-sisa bangunan kayu itu yang kini hanya tinggal puing arang dan tumpukan abu di atas tanah.

Murid-murid Musdar menangis terisak-isak. Mereka sedih karena telah kehilangan tempat belajar.

Tentu Musdar tak ingin murid-muridnya kecewa. Musdar tetap berkeinginan untuk mengajar murid-muridnya walaupun mereka belajar di bawah pohon dekat sisa sekolah madrasah yang telah habis terbakar itu.

Setiap hari Musdar mengajar murid-muridnya seperti itu tentunya selalu ditemani Purnama yang terus berada di samping Musdar hingga membuat keduanya semakin akrab dan benih-benih cinta diantara mereka tak terbendung lagi. Rasa cinta itu seperti air yang terus mengalir begitu saja.

Lagi-lagi Zamaran tak suka dengan apa yang dilakukan oleh Musdar. Lelaki paruh baya itu mulai melancarkan fitnahnya. Zamran membuat isu di tengah-tengah masyarakat bahwa Musdar sengaja mendekati Purnama dan ingin memanfaatkan Purnama. Semua itu Musdar lakukan hanya untuk mengincar harta keluarga Purnama andai mereka nanti menikah.

Terlepas dari benar atau tidaknya isu yang menjadi buah mulut warga itu namun yang pasti isu ini juga menyentuh telinga keluarga Purnama.

Kali ini Rustam murka terhadap Musdar. Rasa kagum Rustam pada Musdar selama ini telah luntur dan berubah menjadi sebuah kebencian.

Kebencian itu disebabkan karena besarnya rasa khawatir Rustam akan masa depan putrinya. Rustam telah lama berencana ingin menjodohkan Purnama dengan rekannya sesama lurah yang ada di ibukota kabupaten.

Perubahan sikap Pak Lurah yang juga ayahnya Purnama kepada Musdar ini semakin mempersulit Musdar mewujudkan impiannya hendak mendirikan perwiritan remaja mesjid seperti apa yang idamkan sebab selama ini hanya Rustam sang lurah dan ustadz Ali yang mendukung keinginannya itu.

Selain itu Rustam beranggapan bahwa selama ini Musdar dan Purnama hanya sekedar berteman biasa dan semua itu ia biarkan karena Musdar memang mampu merubah Purnama menjadi lebih taat ibadahnya.

Tapi kini setelah Rustam tahu apa sebenarnya hubungan mereka maka Rustam dengan keras melarang Purnama.Sekarang cinta antara Musdar dan Purnama tak dapat meraih restu keluarga Purnama.

Pernah suatu ketika Musdar mengantarkan Purnama pulang dan di teras rumah itu Rustam berdiri dengan geramnya.

“Dari mana saja kau Purnama?” tanya Rustam sang ayah

“Kami baru pulang mengajar Pak!” sahut Musdar langsung.

“Hey Musdar, pemuda yang tak tahu diuntung, aku bicara pada putriku bukan denganmu,” sergah Rustam sambil menunjuk Musdar

Musdar terdiam dan menundukkan wajahnya

“Musdar! sebaiknya kau tahu diri sedikit, kau ini siapa? apa kau pikir aku akan senang melihat purnama bersama dengan mu,” hardik Rustam dengan kasar.

Sementara di teras itu Purnama yang terus bungkam menahan tangis saat Musdar di marahi oleh ayahnya.

Musdar masih terdiam terpaku.

“Musdar! jangan pernah kau bermimpi akan masuk kedalam keluargaku sebagai menantu, itu tidak akan pernah terjadi walau dunia kiamat sekalipun,” ujar Rustam dengan nada tinggi.

“Asal kau tahu ya Mus! Kau tak sepadan dengan putriku.”

“Jangankan untuk itu, harga dirimu dan keluargamu pun tak sebanding dengan telapak kakiku.”

“Jika seandainya orangtuamu masih hidup, maka aku akan berkata pada mereka bahwa anak mereka adalah pemuda hina yang tak punya rasa malu,” papar Rustam membentak.

Dalam diamnya Musdar merasa sedih jika disangkutpautkan dengan kedua orangtuanya yang telah lama meninggal.

“Pergi kau dari sini, aku muak melihat mukamu !” ujar Rustam mengusir Musdar.

Lalu dengan tanpa sepatah katapun Musdar terus beranjak meninggalkan rumah Purnama.

Sementara dari depan pintu rumah ibunya Purnama memperhatikan ketabahan Musdar saat di caci maki oleh suaminya yang tak pernah ia rasa semarah itu.

Di dalam rumah Istri Rustam berkata.
“Pak, mengapa kau menghina Musdar sampai sebegitunya?”

“Biarkan saja! agar ia tahu akan kadar dirinya, biar anak itu sadar bahwa ia tak pantas untuk Purnama anak kita,” jawab Rustam.

Istri Rustam hanya bisa terdiam dan tak banyak bertanya lagi walaupun ia tahu bahwa apa yang diperbuat oleh suaminya itu tidaklah benar.

Rustam kini sangat keras melarang Purnama untuk bertemu Musdar.

Sedangkan Purnama menangis sendiri di dalam kamar tidurnya. Ia bukan purnama yang dulu lagi yang dengan mudah selalu membantah ayahnya sebab Musdar selalu berkata bahwa orangtua adalah sosok mulia yang wajib untuk dipatuhi. Begitulah yang selalu dikatakan Musdar padanya

Di sela rasa gelisahnya. Purnama teringat pesan Almarhum ibunya Musdar yang telah memberinya sebuah kitab Al-Qur’an. Purnama mulai sholat dan membaca ayat Alquran hingga sepanjang malam sampai subuh.

Sejak itu Rustam selalu menghina Musdar saat kapan dan dimana ia berjumpa dengan Musdar dan itu sering sekali Rustam lakukan bahkan sempat suatu ketika Musdar meludah saat Musdar melintas di hadapan Rustam.

Ternyata apa yang di lakukan rustam terhadap Musdar ini menjadi buah bibir masyarakat yang mereka nilai tak sepantasnya seorang Lurah bersikap arogan seperti itu.

Di sisi lain antara Musdar dan Purnama hampir tak ada Waktu untuk saling bertemu. Keduanya saling memendam rasa rindu, rindu yang sangat berat sekali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *