Secara garis besar, puisi ini menyampaikan tentang perasaan cinta sang penyair kepada sang kekasih yang ingin dibuktikannya dengan tindakan kepada orang yang dikasihinya tersebut, bukannya dengan hanya mengandalkan kata-kata atau isyarat semata, meskipun dengan sangat menggebu-gebu.
Frasa “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”
Ketika kita membaca dan mendengar puisi ini, kita dapat merasakan suasana romantis dan haru yang ditanamkan sang penyair ke dalamnya. Lewat frasa “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”, sang penyair menyampaikan ketulusan hatinya untuk mencintai sang kekasih.
Lebih lanjut, ia juga menggunakan majas personifikasi pada frasa “dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”.
Lewat frasa ini, ia ingin membandingkan betapa cinta mirip dengan hujan yang turun ke bumi. Awan memang tak memberi isyarat, namun ia mampu memberi berkat kepada manusia lewat hujan yang mengguyur bumi.
Demikian juga cinta. Ia tak perlu isyarat atau kata-kata yang terlalu besar, namun tindakan yang bisa membuktikan kasih itu secara khas.
Mencintai orang lain berarti mencintai tidak hanya sisi-sisi baiknya, tetapi juga sisi-sisi traumatis yang tak terduga, yang terkandung di dalam dirinya.
Hal Yang Didapatkan Ketika Mencintai
Dengan mencintai yang terduga berarti tidak mencintai sama sekali, karena kita sudah menebak, dan mengkalkulasi dirinya.
Indikator mencintai baru bisa dianggap sungguh mencintai, ketika kita mencintai orang-orang yang tak terduga, yang tak dapat kita terka, yang tak dapat kita bungkus dalam kesempitan konsep pikiran maupun keinginan kita.
Mudah bagi kita untuk mencintai orang-orang miskin, orang-orang yang tak mampu, sakit, kelaparan, ataupun kaum minoritas yang jinak. Itulah yang dikemukakan oleh Žižek.
Untuk mencintai orang lain, selama orang lain itu tidak mengganggu hidup kita, cukup jauh dari kita, dan ada jarak yang terus memisahkan kita dengan mereka.
Namun, itu bukanlah cinta. Itu hanya tawar menawar. Cinta yang sejati bisa terlihat, ketika orang masuk ke dalam hidup kita tanpa jarak, tanpa rencana, dan kita bisa tetap mencintainya.
Manusia selalu diarahkan kepada nilai absolut dan cinta megarahkan pribadi melampaui keterbatasannya (unsur transendensi) yang diperlukan adalah penyerahan diri, kesetiaan pada institusi dengan melepaskan segala priori.
Bukan kenginan untuk menguasai tapi perlu kerendahan hati dan penguasaan diri. Menurut Gabriel Marchel bahwa cinta dalam hubungan intersubjektif juga menunjukkan suatu kreativitas. Creatio, menjadikan sesuatu ada dari yang semula tidak ada. Cinta berdaya Kreatif dalam hal inipun kemudian terbedakan dalam beberapa taraf.
Kreativitas Cinta
Sederhananya kreativitas cinta dapat terlihat dalam karya-karya manusia. Seniman yang mencintai seninya menghasilkan karya seni, petani yang mencintai pekerjaannya menghasilkan panenan, dan lain lain.
Maka, kreativitas semacam itu mengarah pada kreativitas yang sama sekali baru dengan menciptakan adanya kebebasan. Berkat cinta seseorang justru merasa bebas, mampu bergerak dan merealisasikan dirinya karena dia diterima, didukung, dan dipahami.
Kreativitas cinta menumbuhkan kreativitas subjek yang dicintainya dengan pemikiran sangat berbeda, dalam pandangan eksistensialisme juga.
Menurut Sartre, ia melihat cinta bukanlah suatu peleburan subjek justru sebagai bentuk objektifikasi tubuh. Sartre menunjukkan cinta secara dangkal ketika masing-masing hanya dilihat sebagai objek yang bertubuh.
Menurut Sartre, cinta merupakan bentuk lain pengobjekkan terhadap orang lain maupun diri sendiri secara “pasrah” (dalam bahasa Gramsci: hagemoni).
Ia mendaulat cinta sebagai tanda “kegagalan” seseorang untuk mempertahankan dirinya sebagai “subyek” pada perkembangan nya cinta akan menstranformasi dirinya sebagai entitas yang penuh dengan motif “memiliki”.
Hal tersebut tampak melalui berbagai harapan yang dimiliki seorang pecinta atas kekasihnya dan demikian pula sebaliknya.
Dengan misal lain, seseorang akan berharap dirinya untuk terus dicintai dan begitu pula pada pasangannya dengan harapan serupa, sehingga yang terjadi kemudian adalah pengekangan atas kebebasan, orang yang saling mencintai pada hakekatnya “terpenjara”, hanya saja penjara tersebut sedemikian halusnya hingga tak kasat mata.
Tidak bisa dipungkiri juga bahwa cinta dapat dihidupi dengan sedemikian dangkal dan pada kenyataannya justru berkebalikan dengan hakekat cinta itu sendiri.
Cinta tidak lagi membebaskan, tapi me ngikat, tidak lagi mengembangkan tapi memenjarakan pribadi.
Menurut Pakar Tentang Cinta
Menurut Jalaludin Rumi, tidak ada seorangpun yang dapat memahami cinta itu, sebelum dia merasakan bagaimana nikmat cinta yang sebenarnya.
Pengamalan cinta bisa dilihat dan ditiru, tetapi pengalaman cinta hanya bisa dirasakan dengan hati.











