Sudahkah gerakan-gerakan IMM berorientasi kepada kepentingan masyarakat (mahasiswa dan masyarakat umum secara luas).
Atau selama ini program-program yang dijalankan hanya beriorientasi kepada materi, formalitas dan untuk sekedar memenuhi laporan pertanggungjawaban agar terlihat banyak dan menentukan suksesi kepemimpinan ?
Jika memang demikian, maka IMM tak ada bedanya dengan komunitas, perkumpulan atau club yang bergerak hanya untuk kepentingan anggota dan komunitas saja.
IMM bukan organisasi individualitas, melainkan sudah jelas dideklarasikan melalui Trilogi nya yaitu keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan.
Cendekiawan IMM harus menjadi subjek dalam ikatan, sadar akan perannya di tengah masyarakat, peduli terhadap penderitaan mahasiswa dan rakyat.
Para cendekiawan dalam IMM tidak lagi memikirkan mendapatkan apa dari ikatan ini, tetapi mereka berpikir memberikan apa di ikatan ini.
Ahmad Fuad Fanani meminjam istilah Erich Fromm dalam Re-Imagining Muhammadiyah bahwa kita bisa memilih untuk menjadi to be (menjadi) IMM bukan to have (memiliki) IMM.
Orang yang menjadi (to be) IMM senantiasa tidak berpuas diri dan memberikan kontribusi ke organisasinya sekecil apapun usaha itu. Sedangkan orang yang merasa memiliki (to have) IMM biasanya akan berusaha menguasai, mencintai dan memonopoli.
Seorang cendekiawan IMM tentunya harus menjadi IMM bukan merasa memiliki IMM.
Ketika seseorang merasa menjadi IMM maka ia akan memberikan segala yang dia miliki untuk kepentingan IMM.
Sedangkan orang yang merasa memiliki IMM senantiasa mengambil apa yang ada di IMM untuk dirinya sendiri.
- Ditulis Oleh Pheby Mawaddah Situmorang, Sekretaris bidang IMMawati PK IMM PROF.DR.HAMKA UNIMED












