Hubungan Ibu dan anak begitu akrab. Mungkin Normah ingin sekali bercerita pada Azizah namun dia tak memiliki suara. Sesekali terlihat Normah dan Azizah bersenda gurau dengan bahasa isyarat mereka.
Bahasa Normah mungkin berbeda tapi hati Azizah cukup mengerti kata-kata ibunya yang tak bersuara itu. Pasar malam ini menjadi saksi bahwa begitu sayangnya Normah pada Azizah. Kembang gula yang mereka beli tampak mereka santap berdua. Anak dan Ibu ini sangat bahagia sekali sampai akhirnya mereka pulang dengan Azizah yang masih dalam gendongan ibunya.
Malam semakin larut. Dalam letihnya Normah tertidur nyenyak. mereka tidur berdekatan. Azizah belum lagi memejamkan mata. Azizah meraba kedua telapak tangan ibunya itu. Telapak tangan Normah terasa begitu kasar, kulitnya pecah-pecah. Sebagai seorang buruh cuci memang telapak tangan Normah terasa kasar namun hati Normah sangatlah halus. Azizah berkata dalam hatinya.
“Bu! aku bangga padamu, aku merasa sangat beruntung punya ibu sepertimu, meski suaramu tak pernah kudengar tapi aku tahu bahwa suara hatimu selalu berucap namaku dan engkau selalu menjaga kebahagiaanku.” begitulah kalbu Azizah berbisik sendiri di sela tangis harunya yang juga tak bersuara.
Hari telah berganti, kondisi kaki Azizah mulai membaik.
Saatnya Azizah kembali ke ibu kota kabupaten yaitu Rantauprapat demi melanjutkan pendidikannya. Azizah pamit pada ibunya.
Air mata Azizah tak terbendung lagi namun Normah mengisyaratkan pada Azizah untuk tidak menangis dan segera menghapus air matanya walaupun sebenarnya Normah juga berlinang air mata tapi ia membalikkan tubuhnya agar tangisnya tak terlihat Azizah.
Di Kota Rantauprapat, Azizah kembali bersekolah. Azizah bertemu lagi dengan Hasnah sahabat baiknya itu. Kegembiraan Azizah mulai terukir bersama teman-temannya.
Suatu hari, tepatnya Menjelang tanggal 22 Desember, sekolah Azizah mengadakan acara dalam memperingati hari ibu. Setiap siswa diharapkan mampu mengungkapkan rasa sayang mereka pada sang ibu dengan bercerita di hadapan ibu mereka sendiri.
Acara peringatan hari ibu ini baru pertama kali diadakan di sekolah Azizah. Acara ini mengusung tema ‘KAPAN TERAKHIR KALI IBU MENGUCAPKAN SAYANG PADAMU?’
Tema ini cukup berat buat Azizah. Bagaimana tidak, mungkin Normah tak akan pernah datang ke acara ini. Meskipun datang mungkin juga akan merasa dipermalukan di hadapan orang tua siswa lainnya.
Azizah terlihat murung dan Hasanah sebagai seorang sahabat bertanya pada Azizah.
“Zah! kau ini kenapa lagi?” tanya Hasnah
“Ibuku tak mungkin menghadiri undangan sekolah ini, Has,” jawab Azizah.
Mendengar jawaban sahabatnya itu, Hasnah mengerutkan keningnya dan lalu Azizah menceritakan perihal yang terjadi pada ibunya serta kekurangan ibunya itu yang menjadi alasan kenapa ibunya tak mungkin datang dan Azizah juga memperlihatkan fhoto sang ibu yang tersimpan di ponsel-nya.
“Mengapa kau tak pernah cerita padaku tentang ini, Azizah?” Hasnah kembali bertanya.
“Ibu melarang aku bercerita pada siapapun dan ibu takut aku ini menjadi bahan ejekan dan bully dari teman-teman, jadi ibu ingin orang-orang tak tahu tentang dirinya.” Azizah memaparkan hal itu pada Hasnah.
Sekarang tibalah saatnya acara peringatan hari ibu itu. Siswa-siswa yang hadir turut pula membawa serta ibu mereka.
Azizah tetap memberanikan diri menjadi salah satu peserta lomba bercerita tentang ibu dalam acara itu meskipun Azizah tahu mungkin Ibu yang ia cintai itu tak bisa hadir di hari ini.
Satu-persatu siswa telah bercerita tentang ibu mereka dan berbagai ungkapan sayang juga mereka utarakan buat sang Ibu. Kini tiba waktunya untuk giliran Azizah bercerita. Azizah naik keatas panggung, ia mendekati mikrofon yang sudah siap menerima suaranya.
Azizah memulai ceritanya.
“Ibu! ibu adalah mata air kebahagiaanku, aku selalu haus akan kasih sayangnya, Ibuku adalah telaga yang penuh kesabaran, di dalam pelukannya aku kerap merasa nyaman.”
Tiba-tiba di sisi lain, mata Hasnah menuju pada seseorang perempuan setengah tua yang duduk di sudut pojok belakang. Hasnah yakin bahwa itu adalah ibunya Azizah yang fhoto nya pernah Hasnah lihat di ponsel Azizah.
Tak salah lagi, Hasnah mendekati ibu itu dan Hasnah mengacungkan tangannya agar Azizah melihat kehadiran ibunya itu.
Tujuan Hasnah ternyata tercapai, sontak Azizah menoleh kearah Hasnah dan ia melihat ibunya rupanya hadir di acara itu.
Azizah langsung bersemangat dan Azizah melanjutkan ceritanya. Selain Azizah berucap kata demi kata, Azizah juga menggerakkan tangannya seraya ia menggunakan bahasa isyarat supaya ibunya paham apa yang Azizah sampaikan.
“Kapan terakhir kali ibu mengucapkan sayang padamu? tema ini adalah sebuah pertanyaan yang tak pantas ditujukan padaku,” ujar Azizah.
“Ibuku tak pernah mengucapkan sayang padaku, tapi ia selalu nyatakan itu dengan perbuatannya, pengorbanannya dan perjuangannya demi aku.
“Ibuku tak mungkin mengucapkan kata sayang itu padaku, karena ibuku adalah seorang perempuan tuna wicara, tak ada suara yang bisa keluar dari mulutnya. sepanjang hidupnya ia tak pernah punya kata-kata, lantas bagaimana ia mengucapkan kata sayang itu padaku?
“Ibu, mungkin aku tak pernah mendengar nyanyianmu untuk mengantarkan aku pada tidur yang lelap, tak ada ucapan selamat ulang tahun padaku, tak ada dongeng yang kau ceritakan sebelum aku tidur, namun aku sangat bahagia meskipun itu tak pernah aku rasakan.
“Ibu, jangan pernah berpikir bahwa aku malu dengan kondisimu, dengan kekuranganmu, tidak …! tidak sama sekali, andaipun aku di-bully setelah ini, aku tidak apa-apa, aku siap, karena aku rasa beruntung sekali punya ibu yang istimewa seperti ibu.
“Sekarang aku yakin bahwa surgaku itu selalu berada di bawah telapak kakinya. Dia perempuan yang mungkin tak sempurna itu tapi dibmataku, dia sungguh begitu sempurna.
“Ibu, kau tahu, mengapa aku begitu menyayangimu? itu semua karena ibu terlalu menyayangiku meski sayang yang aku rasakan itu tanpa ucapan kata sayang itu sendiri.
Azizah turun dari panggung itu dan mendekati tempat duduk ibunya dan langsung mendekap ibunya dengan tangis yang mengharukan.
Sementara di sela air mata yang bercucuran di pipi Normah, ia memeluk dan mencium putri semata wayangnya itu. Dalam hati Normah terselip perasaan bangga akan putrinya yang tak pernah malu dengan kondisi ibunya sendiri.
Setelah pelukan mereka terlepas, Azizah menggunakan kata isyarat dengan mengucapkan.
“Maafkan aku ibu, sungguh aku amat sayang padamu, selamanya.”
Normah mengangguk-angguk di sela deru air mata dan tangisnya yang tak bersuara itu.
Sementara orang-orang yang hadir di situ merasa terharu sekali atas ucapan Azizah. Air mata mereka tertumpah seperti menyaksikan sebuah film ber-ending sedih.
Tampak Hasnah merasa senang sekali melihat sahabatnya, Azizah menggandeng tangan ibunya itu dengan rasa bahagia. Sedangkan setelah hasil lomba diumumkan besoknya, maka Azizah keluar sebagai pemenangnya.












