Hanya Pemuda

Warta1754 Dilihat

Purnama bertemu dengan Musdar. Purnama langsung mengembalikan sandal yang ia pinjam itu beserta ucapan terimakasihnya pada Musdar.

Musdar tersenyum kecil pada Purnama. Senyuman yang sama yang pernah Musdar lemparkan pada malam pertemuan pertama mereka.

Gadis itu memperhatikan setiap gerak-gerik pemuda yang sedang mendidik bocah-bocah polos yang penuh harapan itu.

Purnama merasa terdorong untuk membantu Musdar agar turut mengajar di madrasah itu dalam beberapa waktu selama Purnama berada di kampung itu. Musdar senang sekali dengan tawaran Purnama tapi Musdar menyarankan agar Purnama merubah penampilannya dan akhirnya Purnama pun menyetujui saran Musdar itu.

Ternyata mulai besok Penampilan Purnama berubah. Hijab putih dan pakaian tertutup ala gadis muslimah yang di kenakan Purnama menambah aura kecantikannya. Purnama terlihat begitu ayu dan manis di pandang. Kini Purnama menjadi staf pengajar di madrasah itu.

Hari berganti hari hingga mingu bertukar bulan, maka Musdar dan Purnama pun semakin dekat. Perasaan mereka tak bisa terelakkan lagi. Hati mereka memendam rasa cinta antara satu dan yang lainnya.

Suatu ketika Purnama diajak oleh Musdar ke rumahnya. Rumah itu memang begitu kecil dan sempit, namun di situ terdapat beribu kenangan buat Musdar dan keluarganya.

Musdar mempertemukan Purnama dan Ibunya dan terlihat antara Purnama dan Darpinah sang ibunya Musdar begitu cepat akrab. Di sela-sela keakraban mereka, Darpinah bertanya pada Purnama.

“Purnama! Aku lihat kau begitu dekat dengan Musdar, Apakah orang tua mu tak pernah melarang kedekatanmu ini?”

“Aku tidak tahu, Bu! yang aku tahu bahwa selama ini orang tuaku telah mengizinkan aku menjadi guru sementara di madrasah dan untuk itu mereka tidak melarang ku,” jawab Purnama.

“Purnama! kau tahu, dulu ayah Musdar selalu bermimpi untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak yang tidak mampu di kampung ini, sebidang tanah yang kami miliki tak pernah dipakai untuk menanam apapun, ayah Musdar mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sampai-sampai keluarga kami juga harus berhemat untuk mewujudkan mimpi itu, dua tahun lamanya maka berdirilah bangunan sederhana dengan dinding bambu dan atap rumbia, tiba-tiba Zamran datang ingin membeli tanah itu. Zamran berencana untuk mendirikan penakaran burung walet di sana, tapi ayah Musdar tak pernah mau menjualnya walau dengan harga berapapun,” jelas Darpinah menceritakan masa lalu ayah Musdar.

Kemudian Darpinah menghela napas panjang sebab dadanya terasa berguncang mengingat semua itu, namun Darpinah terus melanjutkan ceritanya.

“Ayah Musdar bertengkar hebat dengan Zamran yang mengatakan bahwa tanah tersebut adalah milik zamaran dengan bukti adanya surat jual beli tanah yang di pegang Zamran, tentu saja ayah Musdar tak terima sebab ayah Musdar merasa ia tak pernah menandatangani surat apapun atas jual beli tanah itu,” ujar Darpinah.

“Lalu ibu tidak tahu, entah ada hubungannya dengan semua itu atau tidak, namun yang pasti ketika ayah Musdar ingin melaporkan hal itu pada polisi di Kecamatan, tiba-tiba peristiwa naas pun terjadi di tengah perjalanan, Ayah Musdar tewas karena korban tabrak lari oleh orang yang tak di kenal dan sampai saat ini masalah itu tak pernah terungkap, kini tanah harapan ayah Musdar tersebut sudah menjadi milik Zamran berdasarkan surat-surat yang ia miliki.” Darpinah memaparkan kisah kelam keluarganya Itu dengan genangan air di kelopak matanya.

“Waktu itu hati ibu hancur, hancur sekali! sebab kepergian ayah Musdar secepat itu, dunia ini rasanya tak ada artinya lagi, tapi ketika tangan Musdar kecil meraih jari-jari ibu, maka saat itu pula ibu sadar bahwa ibu harus bertahan, ibu harus bangkit dan kuat untuk membesarkan Musdar dengan penuh kasih sayang walaupun hanya seorang diri tanpa suami,” ungkap Darpinah melanjutkan ceritanya.

Hati Purnama tersentuh mendengar cerita ibunya Musdar dan juga sekarang Purnama tahu mengapa Pak Zamran tak suka melihat keluarga Musdar hingga sekarang.

Sementara dari kejauhan, Musdar melihat Purnama dan ibunya tampak begitu akrab dan serasi, batinnya tersenyum melihat itu.

Sudah beberapa jam Purnama berada di rumah Musdar dan kini saatnya Purnama pamit dari rumah Musdar namun sebelum pamit ibu Musdar memberikan sebuah kitab Al-Qur’an berukuran kecil. Darpinah memberikan itu seraya berkata.

“Purnama! bawalah Al-Qur’an ini, jika hatimu gundah dan resah, mengajilah dan baca ayat- ayatnya, sebab di dalamnya kau akan menemukan semua jawaban dari keresahanmu,” ujar Darpinah pada Purnama.

Purnama dengan senang hati menerima pemberian ibu Musdar tersebut, Lalu kedua perempuan itu saling berpelukan dan begitu hangat hubungan keduanya.

Namun setelah Purnama pulang, Darpinah bercakap-cakap pada anaknya, Musdar.

“Mus! ibu mau bertanya satu hal padamu,” kata Darpinah

“Ya Bu!” sahut Musdar pada ibunya.

“Apakah benar kau mencintai Purnama? ibu minta kau berkata jujur, Mus!” tanya Darpinah.

Lalu Musdar mengangguk perlahan sembari tertunduk di hadapan ibunya.

“Mus! Perasaanmu pada Purnama tidaklah ibu salahkan, namun kita ini orang yang tak berada, sedangkan Purnama bukan perempuan seperti kita, dia dari kalangan keluarga terhormat, Purnama itu seorang sarjana,” ucap ibunya.

“Mus! bukannya ibu memintamu menjauhi Purnama, tapi ibu ingin kau jangan terlalu berharap pada Perasaanmu itu, ibu takut nanti kau akan kecewa dan ibu juga khawatir yang kau dapatkan hanya penghinaan-penghinaan saja,”

“Tak akan pernah sebanding antara sepotong berlian dengan sebutir pasir laut,”

“Ibu berharap kau mengerti apa yang ibu maksud, Mus!” tutur Darpinah menasehati Musdar.

“Musdar paham Bu!” jawab Musdar untuk meyakinkan ibunya.

Namun berselang seminggu kemudian, tepatnya pada suatu senja selepas sholat maghrib, asma Darpinah kambuh kembali dan kali ini sesak napas yang selama ini Darpinah idap sepertinya kian bertambah parah hingga Darpinah terlihat sulit untuk bernapas.

Musdar tak tega melihat ibunya seperti itu, maka Musdar berkeinginan untuk membawa ibunya ke Puskesmas di Kecamatan.

Letak Puskesmas tersebut cukup jauh dari tempat tinggal Musdar ditambah lagi kondisi jalan yang becek akibat seringnya turun hujan sehingga angkutan seperti beca dan ojek susah beroperasi di lokasi itu.

Sebab kendala itu maka Musdar menggendong ibunya dan membawanya sendiri ke Puskesmas. Sepanjang perjalanan dengan menggendong ibunya itu, Musdar terus menitikkan air mata.

Sedangkan gerimis tebal mulai berjatuhan dari langit yang semula mendung, tetapi Musdar tak peduli. Musdar tetap menggendong ibunya berjalan menuju Puskesmas dengan harapan agar nyawa ibunya dapat segera tertolong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *