Jati Diri Maluku Yang Hilang Oleh Leonard Manuputty

Warta1692 Dilihat

Selain itu ada cara yang tepat untuk melestarikan bahas daerah, cara ini sudah diterapkan di Maluku tenggara setiap hari jumat mereka menggunakan bahasa kei untuk berkomunikasi, agar bahasa tersebut tetap dilestarikan hingga kepada anak cucu nantinya, metode ini sangat bagus untuk direalisasikan karena secara tidak langsung memaksakan mereka untuk memahami bahasa daerahnya sendiri.

Selain itu perlu adanya kesadaran masing – masing dari pemuda Maluku sendiri supaya bagaimana bisa belajar bahasa daerahnya agar nilai kultur dari budaya Maluku sendiri tidak punah akibat arus perkembangan zaman. Sosialisasi juga diperlukan di setiap desa untuk kelestarian budaya tersebut. Kalau upaya tersebut sudah diterapkan maka dari itu bahasa adat tersebut sudah pasti akan lestari.

3. Sebagian alat musik tradisional Maluku

Sebagian besar masyarakat di Maluku memiliki kemampuan menyanyi, bermain alat musik.

Kemampuan emas yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa ini patut di syukuri karena sebagian besar dari mereka membuat nama Maluku dikenal sampai kancah nasional bahkan internasional dengan kemampuan seninya baik menyanyi, bermain gitar, drum, serta alat musik lainnya.

Talenta menyanyi dan seni musik lainnya yang dimiliki masyarakat Maluku membuat Ambon menjadi kota musik dunia sehingga bertepatan dengan Hari Kota Sedunia pada 31 Oktober 2019, UNESCO menetapkan Ambon sebagai kota musik dunia, peran pemerintah serta musisi Maluku sehingga ambon menjadi kota musik dunia.

Maluku banyak melahirkan musisi seni nasional yang meliputi Barry Likumahua, Franky Syahailatua, Glen Fredly, Yopie Latul, Chris Pattikawa, Utha Likumahua dan masih banyak lagi.

Selain musisi nasional asal Maluku bahkan banyak sekali penyanyi lokal Maluku yang selalu mengguncang permusikan di Maluku salah satunya, Doddie latuharhary, Mitha Talahatu, Nanaku, Grup Naruwe (Cevin Syahailatua, Maxen Titahena, Helmy Sahetapy, dan Evert Titahena), Willy Sopacua, Yochen Amos dan masih banyak lagi.

Akan tetapi sekian banyak musisi Maluku, baik lokal hingga sampai nasional jarang sekali menggunakan alat musik tradisional sebagai pengiring itu membuktikan bahwa arus modern yang tadi sudah dijelaskan sangat mempengaruhi kultur budaya disetiap daerah masing-masing. Padahal alat musik daerah di Maluku sangatlah banyak dan beranekaragam berdasarkan daerahnya masing- masing, salah satu alat musik daerah Maluku adalah arababu, tahuri, idiokordo, totobuang, rumba, dan lain-lain.

Pelestarian alat musik di daerah ini perlu kita lestarikan bersama, peran serta lagi-lagi diperlukannya pemuda dan pemerintah untuk menjadikan alat musik tradisional di Maluku menjadi hal yang patut dan penting untuk dijadikan sebagai unsur utama kebanggaan masyarakat Maluku agar bisa diperkenalkan dimata dunia.

Apalagi Ambon sudah di nobatkan sebagai kota musik dunia masyarakat Maluku harus memanfaatkan peluang tersebut, perlu membuat banyak pementasan seni musik tradisional guna melestarikan alat musik tradisional yang sudah tidak dipakai kembali harus di revitalisasi agar pelestarian budaya menjadi turun temurun.

Selain membuat pementasan tradisional, dengan dibentuknya ambon city of music buat suatu monumen atau bisa juga semacam museum yang isinya alat musik lokal asli Maluku, serta apapun itu yang berkaitan dengan seni musik dipajang disitu. Sehingga dapat membentuk pameran seni tradisional agar mengenalkan seni musik tradisional kepada seluruh masyarakat Indonesia hingga dunia.

4. Kurangnya penggunaan peralatan tradisional asli Maluku

Sejak zaman tete nenek moyang masyarakat Maluku melakukan segala aktivitas selalu menggunakan peralatan tradisional, peralatan tradisional ini bisa berupa tempat makanan, tempat minuman, meja, bangku yang dibentuk dan dibuat menggunakan bahan tradisional dan dari hasil alam itu sendiri yang selalu menghiasi pemandangan disetiap rumah masyarakat Maluku.

Sekarang peralatan tradisional asli Maluku banyak yang sudah tidak dipakai lagi, padahal nilai estetika dari peralatan tradisional itu memiliki keunikan serta ciri khasnya masing-masing.

Tindakan setiap masyarakat yang tidak menggunakannya kembali bahkan lupa akan hal tersebut adalah bentuk tindakan lunturnya nilai-nilai budaya tersebut yang seharusnya dilestarikan.

Memang kita bisa sadari akibat lahirnya modernisasi yang beberapa perkembangannya selalu menyingkirkan nilai aspek dari kebudayaan itu sendiri sehingga mengakibatkan kelunturan kesadaran masing-masing individu dan kelompoknya.

Tetapi tidak menutup kemungkinan seperti Presiden Soekarno pernah berkata “Jangan Melupakan Jasmerah” yaitu jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah itu bukti bahwa sejarah meskipun sudah berlalu harus kita ingat dan lestarikan.

Di suatu Negeri di ujung timur Pulau Saparua, terdapat Negeri yang didalamnya selalu memproduksi kerajinan tangan tradisional.

Negeri itu bernama Negri Ouw, ketika kita sampai didalam negeri tersebut terdapat gapura lalu disisi kanan dan kiri gapura tersebut terdapat sempe, sempe itu sebuah wadah tempat menaruh papeda, makanan khas Maluku.

Sempe selalu identik dengan Negeri Ouw, sempe tersebut menjadi identitas masyarakat Negeri Ouw.

Selain kerajinan tradisional sempe terdapat kerajinan lain, yang dahulu digunakan oleh nenek moyang masyarakat Maluku yaitu, porna, tajela, belanga, gelas yang terbuat dari tanah liat, begitu juga piring.

Serta tempayang air minum selalu dibuat masyarakat Negeri Ouw disamping untuk selalu mengingat sejarah dan budaya asli Maluku, hal tersebut membentuk untuk bagaimana anak muda zaman sekarang mengetahuinya.

Selain penghasilan didapatkan dari hasil laut dan hasil kebun pembuatan kerajinan tangan tradisional tersebut digunakan sebagai perputaran ekonomi sebagian kepala keluarga yang ada di Negeri Ouw.

Peralatan tradisional ini selalu dipakai oleh orang tua terdahulu masyarakat Maluku, itu bagian dari identitas masyarakat Maluku sendiri. Meskipun sudah tidak dipakai lagi diharapkan perlu adanya pelestarian kembali alat-alat tradisional tersebut.

Bentuk penghargaan bilamana peralatan tradisional tersebut terus dilestarikan, karena segala proses pembentukan pembuatan peralatan tradisional selalu memakai bahan-bahan yang alami sehingga keaslian dari peralatan tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Maluku selalu menghargai adat budaya yang ada di Maluku.

Meskipun bagi sebagian masyarakat modern sekarang menggunakan alat tradisional itu adalah suatu bentuk ketertinggalan akan tetapi hal tersebut merupakan cara berpikir yang salah, karena bagian dari pelestarian budaya itu merupakan investasi untuk membangun masa depan.

Entah pemanfaatan pelestariannya bisa dilihat dari sektor ekonominya, sektor pemberdayaan serta pelestariannya dan apapun sektornya bisa dimanfaatkan. Salah satu tindakan kesadaran yang harus dilakukan adalah bagaimana memperkenalkan seluruh masyarakat Indonesia bahwa pentingnya mencintai budaya daerahnya masing-masing.

Pelestarian dalam memperkenalkan peralatan tradisional ini harus digaungkan setiap saat demi membangun kecintaan terhadap budaya lokalnya sendiri, dinas kebudayaan bekerja sama dengan instansi pemerintah terkait pelestarian kebudayaan tersebut harus membuat cara yang khusus demi kelangsungan dalam pemberdayaan kebudayaan daerah Maluku.

5. Sebagian tarian dari Maluku

Maluku selain dikenal dengan seni dalam bermusik dan bernyanyinya, masyarakat Maluku ini dikenal dengan seni tarinya. Berbagai macam tarian yang ada di Maluku, dan sebagiannya sangat terkenal bahkan sampai kalangan manca negara.

Ada sebagian tarian terkenal asal Maluku dari beberapa tarian Maluku yaitu, tari saureka-reka, tari lenso, tari cakalele, dan masih banyak lagi.

Bahkan dari beberapa tarian tersebut mengandung makna tersirat, bukan sekedar asal menari.

Contoh tari lenso tari ini merupakan tari pergaulan dan sangat identik dengan generasi muda di Maluku.

Konon, tarian ini sering dijadikan media untuk mencari pasangan hidup. Jumlah penari biasanya 6 sampai 10 orang saja. Musik pengiringnya antara lain Tambur Minahasa, Suling, Kolintang, dan Tetengkoren.

Bukan hanya itu saja banyak tarian mengandung maknanya masing-masing, gerak gerik yang dilakonkan oleh para penari memiliki sejarahnya sendiri dan bahkan artinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *