Cerpen || Kehilangan Sebab Saling Bersama

Warta1036 Dilihat

Setelah tiga bulan lamanya, Agil pun berubah total, tidak sehangat dulu. Yang awalnya sikapnya hangat, malah justru berubah menjadi dingin, acuh, cuek dan jarang ngabarin Caca.

Allah memang maha membolak-balikkan hati hambanya. Tetapi, perasaan kecewa itu sering muncul dari orang yang kita cintai. Bahagia adalah bonus, sedangkan kecewa adalah konsekuensinya. Janji hanyalah obat penenang, sedangkan hati bisa saja menjadi sasaran patah hati yang sesungguhnya paling sakit.

“Kak Agil, kenapa berubah? (tanya Caca sambil menelpon kak Agil)

“Berubah gimana Ca? Kamunya aja yang sensitif, dikit-diit ngelarang, gak bolehin nongkrong sama temen kakak, maunya aja yang dingertiin, tapi gak mau ngertiin orang lain. Egois kamu Ca. Udah ya Ca, kakak lagi sibuk dan gak mau berantem sama kamu. Pusing kepala kakak dengerin kamu marah terus. Bukannya kasih solusi malah nambah beban pikiran. Nyesal kakak mau sama kamu. Kita sampai disini aja ya Ca. Maaf, kakak gak bisa lanjutin hubungan ini lagi. Makasih untuk waktunya. Sekali lagi maaf ya Ca. (Sambil memblokir Caca)

“Kakak kok bilang gitu?, kak Agillllllll.

Kisah kita memang sudah berakhir, walau itu hanya berakhir sepihak saja. Namun, bukan berarti aku akan menerimamu kembali. Bagiku sudah tak ada lagi yang perlu diteruskan dan tidak ada lagi yang harus diperbaiki. Kenangan kita akan kulipat, lalu ku tenggelamkan dalam perasaan ini, agar tidak tertuju lagi padamu. Sebab, kau tak pantas untuk dikenang dan tak pantas juga menjadi bagian ingatanku. Hidupku sudah baik-baik saja tanpamu. Meski terkadang, ingatan akan luka itu sering kali mucul dikepalaku. Kita hanyalah dua orang asing. Kesudahan kenangan kita sudah lama terhenti.

Kini ku jalani hidupku tanpa berharap lagi kesiapapun, Aku gak tau bisa nerima orang baru lagi, karena aku takut dan trauma. Aku berusaha menjaga perasaannya. Sedangkan dia? Malah menyalahkanku atas kesalahannya sendiri. Dia bilang aku egois, padahal dia yang egois memutuskan hubungan dengan sebelah pihak saja dan langsung menghilang dari hidupku. (Ucap Caca pada dirinya sendiri, sambil menangis dan mengelus dadanya sendiri).

”Ca, kak Agil selingkuhhhhhh. (sambil nge-dm Caca)

“Ha? Beneran? Sama siapa?

“Kak Agil selingkuh sama temen sekelasnya, namanya Rara.

“Kamu dapat info dari mana?

“Aku liat langsung Ca, rumor nya udah beredar kemana-mana Ca. Bahkan satu sekolah tau, kak Agil Pacaran sama kak Rara.

“Yaudah Fel, gausah dibahas, kami kan ga punya hubungan apa-apa lagi. Aku gak mau tau soal hubungannya sama orang lain. Kalo dia mau pacaran lagi itu hak dia Fel. Aku ga berhak ikut campur. (Ucap Caca, sembari menghindari obrolan).

Pada malam harinya, bertepatan ulang tahun kak Agil, Caca coba buat ngasih ucapan ke kak Agil. Dan lama kelamaan, pembicaraan pun mulai melenceng.

“Ohhh, jadi Karena kak Rara kakak ninggalin aku? (Tanya Caca sambil emsoi)

“Ha? Apa-apaan sih. Nuduh gak jelas kamu Ca.

“Kakak jujur aja, gapapa kok, kita kan gak ada apa-apa lagi, gak berhak juga aku buat ngelarang hubungan kakak sama dia.

“Iya Ca, waktu kita masih sama, aku suka sama dia. Aku pacarin kamu karena aku belum diterima sama dia. Ya, kebetulan ada kamu. Trus kamu mau aja nerima aku dengan mudahnya. Aku jadiin pelampiasanlah heheheh. (Jawab Agil sambil tertawa tanpa merasa bersalah).

“Oh iya kak, gak papa. Itu hak kakak. (Caca pun memblokir kak Agil dan menghapus kontaknya).

Aku pelupa yang paling amatir. Ingin membunuhmu dalam ingatanku. Melenyapkanmu dari ruang kenanganku. Lantas aku tak bisa. Mungkin kata orang benar, “semakin kau ingin melupakan, semakin besar juga rasa itu akan tumbuh”. Tapi sudahlah, ini hatiku,. Takkan ku biarkan kau berlama-lama di dalam sana. Hingga menghalangi orang lain untuk masuk kembali.

Caca pun melamun kembali disudut kamarnya, sambil berkata pada dirinya sendiri,

Anggap saja kita kebetulan yang memang seharusnya tidak dibetulkan untuk bersama. Kita hanya dua orang yang pernah berpapasan di jalan. Hingga kau datang mengetuk pintu hatiku. Kau tak langsung pergi, kau mampir untuk waktu yang kau bilang tidaklah singkat. Namun, setelah kau sudah bosan, kau dengan mudahnya mengakhiri hubungan dengan sebelah pihak tanpa merasa bersalah. Caramu meninggalkan aku cukup berkelas di kalangan para pemain hati. (Ucap Caca yang sambil menetaskan air mata).

Sendiri mungkin melelahkan, tak ada teman untuk bercurhat ria. Sendiri juga membosankan. Tapi kita bisa memperbaiki diri, agar yang datang adalah yang paling terbaik. Daripada sibuk bertahan untuk orang yang belum tentu menjadi pasangan kita.

Karya : Winda Kholila

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *